(Kitani.id): Sektor perkebunan kopi di tanah air memerlukan sinergi kuat agar mampu bersaing di kancah internasional. Ketua Tim Kerja Modernisasi Pertanian BRMP TRI Kementan, Dwi Astutik, menekankan bahwa dukungan strategis petani kopi harus dimulai dari aspek paling dasar, yakni penyediaan benih.
Kualitas benih yang baik menjadi fondasi utama dalam meningkatkan produktivitas hasil panen. Kementerian Pertanian telah mengalokasikan anggaran khusus untuk mendukung produksi benih berkualitas.
Langkah ini diharapkan mampu meringankan beban biaya produksi di tingkat pekebun. Selain benih, peningkatan sarana dan prasarana serta penerapan teknologi pertanian mutakhir juga menjadi kebutuhan mendesak yang harus segera dipenuhi.
“Dukungan dalam kebijakan memang dari awal kita sampaikan mulai dari penyediaan benih unggul,” ujar Dwi, Kamis (26 Maret 2026).Membuka Akses Pasar Melalui Sertifikasi Kolektif
Potensi pasar kopi, baik domestik maupun luar negeri, saat ini sedang berada pada tren yang sangat positif. Namun, untuk menembus pasar global, terdapat standar ketat berupa sertifikasi asal kopi. Proses ini sering kali menjadi hambatan besar bagi petani jika dilakukan secara mandiri karena biaya dan prosedur yang rumit.
Pemerintah menyarankan agar pengurusan sertifikasi dilakukan melalui gabungan kelompok tani (Gapoktan) atau koperasi. Dengan sistem kolektif, beban administrasi dan biaya dapat ditanggung bersama sehingga lebih ringan. Legalitas ini sangat penting agar kopi produksi lokal diakui dan memiliki nilai tawar tinggi di pasar ekspor.
“Untuk menuju global ada sertifikasi yang harus dilakukan di kebun. Sebaiknya memang diakomodasi oleh Gapoktan atau koperasi, jangan petani individu,” jelas Dwi.
Sinergi Lintas Sektor dan Konsep Agroforestri
Upaya pengembangan kopi kini juga diarahkan pada pemanfaatan lahan tidur melalui konsep agroforestri. Implementasi metode ini sedang dibahas secara intensif oleh lintas kementerian. Pola tanam campuran ini diharapkan mampu memperluas lahan produksi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan hutan.
Dwi menegaskan bahwa kemajuan industri kopi nasional tidak bisa dicapai jika masing-masing pihak berjalan sendiri. Tantangan yang dihadapi petani sangat kompleks, mulai dari perubahan iklim hingga dinamika harga pasar.
Oleh karena itu, keterlibatan berbagai pemangku kepentingan menjadi kunci agar kebijakan pemerintah dapat berjalan efektif di lapangan.
Melalui kerja sama yang erat antara pemerintah, pengusaha, dan kelompok tani, masa depan kopi Indonesia diyakini akan semakin cerah.
Peningkatan kualitas SDM dan dukungan infrastruktur yang memadai akan memastikan petani kopi lokal mampu menjadi pemain utama di pasar dunia.(*)








