(Kitani.id): Pandangan lama bahwa sawah harus selalu tergenang air kini mulai berubah. Sebuah inovasi sederhana menggunakan pipa paralon terbukti mampu menjaga hasil panen tetap melimpah meski penggunaan air dikurangi. Teknologi Alternate Wetting and Drying (AWD) lewat pipa paralon ini menjadi jawaban bagi petani dalam menghadapi keterbatasan sumber daya irigasi.
Kementerian Pertanian (Kementan) mengadaptasi metode ini untuk membantu efisiensi pengairan di lahan persawahan. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa pengaturan air yang efisien merupakan variabel penentu dalam mempertahankan produksi nasional.
Strategi ini sangat krusial untuk menekan risiko gagal panen akibat kekeringan. “Ketersediaan air yang terencana sangat menentukan dalam menjaga produktivitas padi kita,” ujar Mentan Amran, Jumat (27 Maret 2026).
Cara Kerja Pipa Pantau Sederhana
Secara teknis, teknologi AWD lewat pipa paralon berfungsi layaknya alat ukur kedalaman air di bawah permukaan tanah. Pipa paralon dibenamkan di lahan sawah agar petani bisa memantau kondisi kelembapan tanah secara akurat. Pengairan kembali hanya dilakukan saat muka air di dalam pipa turun hingga 10–15 cm.
Analis Lingkungan Pertanian, Ali Pramono, menjelaskan bahwa pipa ini bekerja dengan prinsip sederhana. Petani tidak perlu menggenangi sawah terus-menerus, melainkan cukup mengatur siklus berdasarkan indikator di dalam pipa. Namun, ketersediaan air tetap diprioritaskan pada fase kritis seperti masa pemupukan dan saat tanaman berbunga.
“Pengamatan kondisi air dilakukan menggunakan alat sederhana berupa pipa paralon yang dibenamkan di lahan,” jelas Ali. Metode ini memberikan panduan pasti kapan sawah harus diairi dan kapan bisa dibiarkan mengering sementara.
Keunggulan untuk Tanah dan Tanaman
Penerapan sistem ini tidak hanya menghemat air, tetapi juga memperbaiki struktur perakaran tanaman. Akar padi menjadi lebih kuat dan dalam sehingga lebih tahan terhadap cekaman cuaca panas. Selain itu, sawah yang tidak terus-menerus tergenang dapat memperbaiki kondisi tanah dan menurunkan emisi gas rumah kaca.
Kepala BRMP, Fadjry Djufry, menyebut inovasi ini sebagai solusi adaptif yang sangat dibutuhkan saat ini. Pengaturan air yang terukur memastikan tanaman tetap tumbuh optimal meskipun pasokan air terbatas. Petani diharapkan dapat menjaga stabilitas hasil panen sekaligus memperluas jangkauan layanan irigasi ke lahan lain.
Pendekatan pertanian cerdas iklim ini menjadi bagian dari upaya keberlanjutan sistem produksi pangan nasional. Dengan pipa pantau yang murah dan mudah didapat, petani di pelosok daerah kini bisa mengelola sawah dengan lebih modern dan efisien.(*)








