Inti Berita:
• Masalah: Ancaman El Nino 2026 yang diprediksi BMKG datang lebih awal dan lebih kering di 325 zona musim.
• Solusi: Pengaktifan pompanisasi seluas 2,2 juta hektar, rehabilitasi irigasi, dan penggunaan benih padi adaptif (Bio Salin).
• Data: Pompanisasi mencakup 1,2 juta hektar lahan eksisting ditambah perluasan 1 juta hektar, serta optimalisasi lahan rawa.
(Kitani.id): Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bergerak cepat menyiapkan langkah antisipasi menghadapi anomali iklim El Nino. Pihaknya kini telah menyiapkan sistem pompanisasi besar-besaran untuk mengairi 2,2 juta hektar sawah termasuk di Lampung.
Langkah ini diambil agar produktivitas padi tetap terjaga meskipun curah hujan berkurang drastis akibat kenaikan suhu permukaan laut. Kementerian Pertanian memastikan infrastruktur pendukung sudah dalam posisi siap tempur di lapangan.
Amran menjelaskan bahwa saat ini pompanisasi sudah menjangkau 1,2 juta hektar lahan sawah tadah hujan. Selain itu, pemerintah menambah jangkauan untuk 1 juta hektar lahan sawah baru melalui mesin pompa yang menyedot air dari sungai dan embung.
Rehabilitasi Irigasi dan Benih Tahan Kering
Fokus pemerintah tidak hanya pada mesin pompa, tetapi juga perbaikan saluran air yang rusak. Infrastruktur irigasi yang telah direhabilitasi kini mampu menjangkau 1 juta hektar sawah petani. Amran mengibaratkan persiapan ini seperti menyediakan payung sebelum hujan turun agar petani tidak kelimpungan saat kekeringan melanda.
“Jadi infrastruktur sudah siap. Ibaratkan jauh sebelumnya kita sudah siapkan payung karena kita tahu bahwa akan terjadi hujan,” tutur Amran dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (6 Maret 2026).
Selain pengairan, pemilihan varietas benih menjadi kunci keberhasilan panen di musim kering tahun ini. Pemerintah telah menyiapkan benih padi yang lebih adaptif, termasuk jenis Bio Salin yang tahan terhadap kondisi ekstrem. Optimalisasi lahan rawa juga terus dikebut karena lahan jenis ini justru terbukti lebih produktif saat musim kemarau panjang.
Petani Diminta Tetap Tenang Hadapi Kemarau
Meskipun BMKG memprediksi peluang El Nino mencapai 60 persen mulai pertengahan tahun, Amran meminta masyarakat tidak risau. Berdasarkan pengalaman pribadinya memimpin kementerian pada 2015 dan 2023, kondisi saat ini dinilai masih lebih terkendali. Ia optimis stok pangan nasional tetap aman dengan persiapan yang matang sejak dini.
“Kami secara pribadi menghadapi di 2015, 2016, kemudian 2023, dan itu jauh lebih dahsyat daripada sekarang. Jadi ini enggak usah kita risaukan,” ucap Amran memberikan semangat.
Pihak BMKG sendiri mencatat bahwa musim kemarau 2026 akan datang lebih awal di ratusan zona musim. Namun, dengan kondisi Indian Ocean Dipole yang diprediksi tetap netral, diharapkan dampak kekeringan tidak separah tahun-tahun sebelumnya. Sinergi antara teknologi pompa dan benih unggul diharapkan menjadi tameng utama bagi petani Lampung dan wilayah lainnya.(*)








