Anak Muda Lampung “Alergi” Bertani, Tirulah Strategi Bos Facebook Ini

Kamis, 5 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mark Zuckerberg, bos Facebook, menaruh perhatian pada investasi pertanian berkelanjutan. (Ilustrasi: Kitani.id)

Mark Zuckerberg, bos Facebook, menaruh perhatian pada investasi pertanian berkelanjutan. (Ilustrasi: Kitani.id)

Inti Berita:

Masalah: Rendahnya minat generasi muda di Lampung untuk terjun ke dunia pertanian karena dianggap tidak bergengsi, melelahkan, dan tidak menjanjikan masa depan.

Solusi: Mengubah pola pikir dengan mengambil inspirasi dari tokoh global seperti Mark Zuckerberg yang justru menjadikan pertanian sebagai investasi masa depan yang stabil.

Data: Mark Zuckerberg mengelola 1.500 hektare lahan di Hawaii untuk menanam jahe dan kunyit organik sebagai peluang bisnis yang tak tergantikan oleh kecerdasan buatan (AI).

(Kitani.id): Kapan terakhir kali kita mendapati anak muda di Lampung secara enteng menyebut cita-citanya ingin menjadi petani atau peternak?

Hmm…, kalau sulit mengingatnya -lantaran sudah terlalu lama atau malah tidak pernah menemukan momen serupa itu- mari kita rubah pernyataannya dan seberapa banyak yang setuju bahwa “Anak muda Lampung ‘alergi’ bertani”.

Kalau pernyataan tersebut tetap terasa asing diajukan di hari-hari ini, kiranya memang semakin nyata bahwa dunia pertanian sudah tidak punya tempat lagi di alam pikir orang kebanyakan, terlebih di kalangan generasi muda. Pernyataan “Anak muda Lampung alergi bertani” menjadi relevan.

Kalaupun pada realitasnya kita masih sesekali menemukan anak muda -baik dari gen milenial atau gen Z- banting tulang mengais penghidupan dari pertanian atau peternakan, umumnya akan ditemui pembuka cerita yang menyebut kalau itu semua dilakukan karena “sudah tidak punya pilihan lain” alias kepepet. Berusaha di bidang pertanian atau peternakan tetap bukan sebagai prioritas cita-cita.

Baca Juga  Bagaimana Negara-negara Berkembang dapat Kumpulkan Dana untuk Atasi Krisis Iklim?

Kalau mau ditelisik lebih lanjut penyebab fenomena itu bisa terjadi, sudah barang tentu mesti dilakukan penelitian mendalam, biar jawaban yang diperoleh lebih akurat.

Namun, jika ingin mendapat jawaban instan, mungkin bisa memungut asumsi publik yang sudah terlanjur meluas dan mengakar yang menyebut anak muda Lampung ‘alergi’ bertani.

Penyebabnya karena selain pertanian dianggap tidak mampu menjanjikan masa depan menggiurkan, bidang kerja yang satu ini terbilang kotor lantaran mesti bergumul dengan tanah.

Bertani juga bikin kulit gesang usai dibakar sinar matahari. Lalu membikin sekujur badan terasa remuk akibat beraktivitas berat.

Reputasi bertani yang dianggap tidak mentereng dan tidak bergengsi di tengah pergaulan anak-anak sekarang, makin dihindari untuk sekadar diobrolin di tongkrongan mereka.

Kalaupun nasib memojokkan jalan hidup, lantas ada di antaranya yang terpaksa nyemplung berjibaku sebagai petani, nyaris bisa dipastikan itu dimaknai sebagai kegagalan hidup. Tak ubahnya aib yang mesti ditutup rapat-rapat. Sebegitu nistanyakah anak muda yang bertani?

Membandingkan Bos Facebook dan Gengsi Anak muda

Facebook. Yup, siapa yang tidak kenal dengan platform jejaring sosial dan media digital yang paling populer di dunia ini?

Kalau benar tidak pernah bersinggungan langsung alias tidak punya akun Facebook, setidaknya tentu pernah mendengar reputasi media sosial yang memiliki lebih dari 3 miliar pengguna aktif ini.

Pendiri Facebook bernama Mark Zuckerberg. Dengan reputasi besarnya itu kita tak perlu terkejut saat mengetahui perkiraan kekayaan bersihnya per akhir 2025 sampai awal 2026 ini mencapai Rp4.300 triliun lebih. Tak pelak ia didapuk menjadi satu dari 3 orang terkaya di dunia.

Baca Juga  Plastik, Godzilla dan Pertanian

Lantas apa kaitan Mark Zuckerberg dengan kecenderungan anak muda Lampung alergi bertani?

Ternyata sangat erat kaitannya, sebab sejak bertahun-tahun lalu, Mark bersama istrinya Priscilla Chan telah menggeluti bidang pertanian dan peternakan di lahannya yang menghampar seluas 1.500 hektare di Hawaii.

Mark Zuckerberg sangat serius menekuni usaha ini. Dalam konsep pertanian berkelanjutan yang dikelolanya ia menanam banyak komoditi. Beberapa di antaranya jahe organik dan kunyit. Sungguh pilihan jenis tanaman yang cukup mengejutkan bagi kebanyakan kita, lantaran kunyit dan jahe sangat mungkin dianggap hal sepele di sini.

Untuk urusan beternak, Mark mengembangkan peternakan sapi untuk dijual dagingnya. Ia juga mengupayakan pembibitan kuda berjenis unggul.

Tentu akan ada yang bilang, hal mudah bagi Mark yang memiliki aset tak terbatas untuk melakukan apa pun, termasuk bertani dan beternak. Berbeda dengan anak-anak muda di Lampung yang sangat mungkin mayoritas berasal dari latar belakang keluarga yang terkungkung oleh seabrek keterbatasan, termasuk finansial serta lahan.

Sangat mungkin pula akan ada yang mencibir sambil menyebut ini perbandingan yang tidak sebanding atau tidak Apple to apple.  Tapi coba kita telisik lebih jauh, mengapa pertanian dan peternakan menjadi bidang yang dipilih oleh orang sebrilian dan setajir Mark?

Baca Juga  Solusi Ekonomi Desa, KDMP dan BUMDes Kelola MBG

Sebagai bocoran, dalam sebuah wawancara dengan media terkemuka di Amerika, Mark mengakui latar belakang atas pilihan besarnya itu. Menurutnya, alasan utama melakukan investasi pertanian dan peternakan karena kedua bidang tersebut merupakan peluang investasi yang stabil dan menguntungkan. Apalagi di tengah ketidakpastian global.

Poin itu yang paling penting, yakni betapa masa depan akan sangat membutuhkan produk pertanian dan peternakan yang untuk mengupayakannya tidak tergantikan oleh kecerdasan buatan semacam Ai sekalipun.

Sekali lagi, di situlah prinsip paling utamanya. Orang-orang cerdas dan kaya di dunia mulai berbondong-bondong melirik sektor agribisnis. Benar, mereka melakukannya dalam skala besar, karena bisnisnya berorientasi memenuhi permintaan dunia.

Buat kita di sini, lahan yang ada -sekalipun luasannya terbatas- tetap merupakan aset penting untuk memenuhi skala kebutuhan keluarga. Mengapa tidak dimulai dari katanya aset yang kecil dan kotor itu, untuk kemudian berproses dirubah menjadi sesuatu yang membanggakan.

Sampai kemudian pencapaian itu terasa pantas diobrolin di tongkrongan anak-anak muda sebagai inspirasi. Sambil berharap tak lama lagi kita akan sering mendapati anak muda dengan bangga mengaku “Saya kepingin bertani” atau “Saya mau beternak”. (*)

Berita Terkait

Plastik, Godzilla dan Pertanian
Resonansi Cashflow PTPN I pada Ekonomi Kawasan, Cerita dari Warung Sate
Tumbal Angka di Tanah Surplus
“Enaknya” Diapakan SPPG Makan Bergizi Gratis ini?
Solusi Ekonomi Desa, KDMP dan BUMDes Kelola MBG
Menikmati Kopi Liwa dan Tanggamus di Cafe, Sambil Bertanya: Sudahkah Petani Ikut Sejahtera?
Lada, Antara Nostalgia dan Produksi Yang Tidak Berdaya
Gubernur Mirza, Ada PPL Berjibaku Nun Jauh di Sana

Berita Terkait

Selasa, 14 April 2026 - 10:21 WIB

Plastik, Godzilla dan Pertanian

Rabu, 8 April 2026 - 17:24 WIB

Resonansi Cashflow PTPN I pada Ekonomi Kawasan, Cerita dari Warung Sate

Senin, 6 April 2026 - 17:04 WIB

Tumbal Angka di Tanah Surplus

Senin, 6 April 2026 - 15:05 WIB

“Enaknya” Diapakan SPPG Makan Bergizi Gratis ini?

Jumat, 3 April 2026 - 13:28 WIB

Solusi Ekonomi Desa, KDMP dan BUMDes Kelola MBG

Berita Terbaru

Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah Kemendagri, Restuardy Daud, menyebut perlunya penggerak ekonomi lokal untuk memutus rantai kemiskinan dan meningkatkan PAD.(foto: Antara)

Koperasi/UMKM

Koperasi Desa Merah Putih Jadi Motor Ekonomi Baru di Lampung

Selasa, 14 Apr 2026 - 12:08 WIB

Antisipasi kenaikan harga plastik global melalui pengalihan penggunaan mulsa organik, lalu inovasi smart farming, dan penguatan subsidi dari pemerintah.(ilustrasi: Kitani)

Saung Opini

Plastik, Godzilla dan Pertanian

Selasa, 14 Apr 2026 - 10:21 WIB

Ilustrasi padi unggul di Tulang Bawang, Lampung. (Foto: ist)

Agropedia

Bibit Padi Unggul di Tulang Bawang, Produksi 12 Ton per Hektare

Senin, 13 Apr 2026 - 17:16 WIB

Bertani hortikultura bisa menjadi alternatif mendongkrak kesejahteraan petani padi di Lampung. (Foto: Kitani.id)

Sosok

Menengok Pontang-panting Petani Gurem di Lampung

Senin, 13 Apr 2026 - 11:20 WIB