Inti Berita:
• Masalah: Perlunya model pertanian yang tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga aspek edukasi dan wisata.
• Solusi: Pengembangan pertanian modern di Lampung Selatan melalui konsep agroeduwisata di Desa Trimomukti, Candipuro.
• Data: Target luas lahan meningkat dari 400 hektare pada 2025 menjadi 1.000 hektare pada 2026 dengan 3-4 kali masa tanam.
(Kitani.id): Program pertanian modern di Lampung Selatan mulai menarik perhatian berbagai daerah. Hal ini disampaikan Plt Kepala Dinas TPH-Bun Lampung Selatan, Mugiyono. Bahkan, katanya, anggota DPRD Pringsewu datang langsung untuk mempelajari inovasi berbasis teknologi tersebut.
Mugiyono memaparkan keunggulan Kawasan Pertanian Anak Nusantara di Desa Trimomukti. Kawasan ini merupakan model percontohan pembangunan berkelanjutan yang mengintegrasikan sektor pendidikan dan pariwisata. Oleh karena itu, ekosistem ini disebut dengan konsep agroeduwisata terpadu.
“Semangat petani di Desa Trimomukti sangat luar biasa dan menjadi kekuatan utama dalam keberhasilan program pertanian modern di Lampung Selatan,” katanya.
Inovasi Agroeduwisata dan Peningkatan Masa Tanam
Konsep agroeduwisata hadir untuk memperluas manfaat sektor pertanian bagi warga. Selain menjadi sentra produksi, lahan tersebut kini menjadi destinasi wisata edukatif. Pemerintah daerah memanfaatkan kekayaan budaya masyarakat lokal untuk menarik kunjungan wisatawan.
Selanjutnya, Mugiyono menjelaskan, target produktivitas lahan yang lebih tinggi tahun ini. Kawasan tersebut ditargetkan mampu melakukan tiga hingga empat kali masa tanam dalam setahun. Hal ini bertujuan untuk memperkuat ketahanan pangan di wilayah Lampung Selatan.
“Program agroeduwisata ini lahir dari kebutuhan menghadirkan model pembangunan pertanian yang lebih luas manfaatnya,” ujarnya.
Perluasan Lahan Pertanian Modern di Lampung Selatan
Pada tahun 2025, Lampung Selatan sukses mengelola 400 hektare lahan dengan tiga kali masa tanam. Kini, pada tahun 2026, pemerintah daerah memperluas target pengembangan hingga mencapai 1.000 hektare. Langkah ini melibatkan berbagai pihak untuk menjaga produktivitas kawasan.
Kemudian, kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan terus dilakukan secara intensif. Pemerintah ingin memastikan seluruh sarana pendukung teknologi smart farming tersedia bagi petani. Dengan demikian, pertanian modern di Lampung Selatan dapat berjalan secara berkelanjutan.
Akhirnya, pendekatan tersebut diharapkan mampu memberdayakan ekonomi masyarakat pedesaan secara mandiri. Kesuksesan di Desa Trimomukti akan menjadi standar baru bagi pengembangan wilayah lainnya. Lampung Selatan kini semakin mantap menjadi pusat inovasi pertanian di Provinsi Lampung.(*)








