Inti Berita:
• Masalah: Ketatnya persaingan pasar dan terbatasnya visibilitas jenama lokal saat puncak konsumsi masyarakat.
• Solusi: Melakukan akselerasi usaha melalui penguatan kualitas produk, desain kemasan, hingga perluasan jejaring bisnis.
• Data: Potensi besar terkonsentrasi pada sektor fesyen (modest wear) dan kuliner (makanan beku & takjil inovatif).
(Kitani.id): Menjelang hari raya Idulfitri, geliat ekonomi kreatif di tanah air semakin kencang. Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) membuka akses promosi yang lebih luas bagi para pelaku usaha lokal.
Upaya tersebut bertujuan memastikan produk dalam negeri tidak hanya menjadi penonton di pasar sendiri.
Akselerasi Produk Lokal Menuju Pasar Global
Pemerintah memfokuskan intervensi pada aspek kecepatan pertumbuhan usaha. Tujuannya adalah menyiapkan para pelaku ekonomi kreatif agar mampu meningkatkan nilai tambah produk mereka. Daya saing yang kuat akan membuat akses pasar terbuka lebih lebar bagi mereka.
“Kementerian Ekraf memfokuskan intervensinya pada aspek akselerasi usaha, yang bertujuan menyiapkan pelaku dan jenama ekonomi kreatif untuk meningkatkan nilai tambah produk,” ungkap Yuke Sri Rahayu, Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kemenekraf, Kamis (19 Maret 2026).
Program Strategis Penguatan Jenama
Selain dukungan pameran seperti Festival Jejak Jajanan Nusantara, terdapat program khusus untuk meningkatkan kelas UMKM. Program Akselerasi Ekspor Kreasi Indonesia (ASIK) dirancang agar produk kriya dan kuliner nasional bisa go global. Hal tersebut sangat penting agar pelaku usaha tidak hanya jago di kandang sendiri.
Pemerintah juga menghadirkan program Bedah Desain Kemasan (Bedakan) untuk mempercantik identitas visual produk. Terakhir, program Masak Bersama Master Chef (MASAMO) hadir membantu pengusaha kuliner menciptakan inovasi menu baru. Berbagai fasilitasi tersebut diharapkan mampu mendongkrak penjualan masyarakat selama Ramadhan secara drastis.(*)








