(Kitani.id): Gabungan Pelaku Usaha Peternak Sapi Potong Indonesia (Gapuspindo) menyebutkan, meskipun situasi geopolitik global sedang tidak menentu, mereka memastikan pasokan sapi nasional tetap dalam kondisi terjaga.
Hingga saat ini, ketegangan dunia belum memberikan dampak buruk yang nyata bagi pasar daging di dalam negeri. Direktur Eksekutif Gapuspindo, Djoni Liano, menjelaskan bahwa pengaruh global memang ada, terutama pada sektor pengiriman.
Hal ini terjadi karena Indonesia masih mengandalkan impor sapi dari Australia yang sangat bergantung pada kelancaran jalur laut. Kendala logistik tersebut diprediksi dapat meningkatkan biaya distribusi dalam jangka waktu menengah dan panjang.
Ketersediaan Daging di Pasar Domestik
Meskipun biaya kirim berpotensi naik, ketersediaan barang di pasar tradisional maupun modern tidak terganggu. Pelaku usaha terus bekerja sama dengan pemerintah untuk menjaga keseimbangan antara stok dan kebutuhan warga.
Harga di lapangan bahkan terpantau stabil, bahkan cenderung mengalami penurunan di beberapa wilayah.
“Pengaruh itu ada, terutama ke logistik yang menjadi lebih mahal. Namun sejauh ini pasokan sapi nasional masih terkendali,” ujar Djoni Liano, Selasa (31 Maret 2026).
Ia juga menambahkan bahwa pergerakan harga daging sapi saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor daya beli masyarakat setempat.
Stok Melimpah Menjelang Lebaran
Data dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) menunjukkan angka yang sangat positif untuk ketahanan pangan kita. Per pertengahan Maret 2026, stok daging nasional tercatat mencapai 226 ribu ton. Jumlah ini hampir tiga kali lipat lebih besar dibandingkan kebutuhan konsumsi bulanan masyarakat Indonesia.
Pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, juga menegaskan bahwa sumber pangan kita cukup beragam. Strategi untuk tidak bergantung pada satu kawasan saja membuat pasokan sapi nasional tetap kokoh menghadapi guncangan global. Masyarakat diharapkan tidak perlu khawatir akan terjadinya kelangkaan daging sapi di pasaran. (*)








