(Kitani.id): Kabar kurang sedap kembali menyambangi sektor pertanian di Bumi Ruwa Jurai. Pasalnya, NTP (nilai tukar petani) Lampung Maret 2026mencatatkan tren penurunan untuk ketiga kalinya secara berturut-turut sejak awal tahun.
Kondisi ini menjadi sinyal kuat bahwa kesejahteraan para petani kita sedang dalam tekanan yang cukup serius. Statistisi Ahli Muda BPS Lampung, M. Sabiel Adi Prakasa, mengungkapkan bahwa indikator ini sangat penting untuk mengukur daya tukar hasil tani.
Namun, realitanya harga hasil pertanian yang diterima petani turun sebesar 1,08 persen. Sementara itu, indeks biaya yang harus dibayar petani justru merangkak naik sekitar 0,41 persen.
“Ini menunjukkan daya beli petani mengalami tekanan,” jelas Sabiel pada Rabu (1 April 2026). Dia menambahkan bahwa selain biaya produksi, kenaikan harga kebutuhan rumah tangga juga ikut naik. Terutama pada sektor transportasi yang menyumbang kenaikan indeks konsumsi sebesar 0,98 persen di wilayah Lampung.
Apabila kita melihat lebih detail, subsektor peternakan menjadi yang paling rendah dengan angka 99,27. Penurunan ini juga merembet pada Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian yang merosot hingga 1,33 persen.
Jika situasi ini tidak segera membaik, stabilitas ekonomi pedesaan di Lampung tentu akan sangat terdampak.(*)








