Inti Berita:
• Masalah: Tantangan biaya produksi (pupuk, bibit) dan konsumsi rumah tangga yang harus diimbangi dengan harga jual hasil panen.
• Solusi: Transformasi pertanian modern dan deregulasi kebijakan mulai membuahkan hasil pada penguatan daya beli petani.
• Data: NTP Februari 2026 naik 1,50% menjadi 125,45. Subsektor hortikultura melonjak tajam hingga 16,68%.
(Kitani.id): Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) periode Februari 2026 mencetak rekor baru dengan menyentuh angka 125,45, atau naik 1,50 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Kenaikan ini menjadi sinyal positif bahwa kesejahteraan petani perlahan membaik. Rasio harga yang diterima petani kini meningkat lebih cepat dibandingkan biaya yang harus mereka keluarkan, baik untuk kebutuhan hidup maupun modal produksi.
Bukti Efektivitas Pertanian Modern
Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, menilai capaian ini sebagai tonggak penting dalam penguatan ekonomi perdesaan. Transformasi menuju sistem pertanian modern dan efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintah mulai berdampak langsung pada kantong para petani.
“Capaian ini menjadi rekor baru. Ini bukti kebijakan kita di lapangan mulai dirasakan langsung oleh petani,” ujar Amran dalam keterangan resminya, Selasa (3 Maret 2026).
NTP sendiri merupakan indikator utama untuk mengukur daya beli masyarakat di desa. Semakin tinggi angka NTP, semakin kuat kemampuan petani untuk menukarkan hasil buminya dengan barang atau jasa yang mereka butuhkan.
Hortikultura Jadi Primadona
Berdasarkan data BPS, kenaikan indeks harga yang diterima petani dipicu oleh merangkaknya harga beberapa komoditas unggulan. Nama-nama seperti cabai rawit, karet, kelapa sawit, dan bawang merah menjadi penyumbang utama keuntungan petani di bulan Februari.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, merinci bahwa subsektor hortikultura mengalami lompatan paling signifikan. Indeksnya melesat dari 119,62 pada Januari menjadi 139,57 pada Februari 2026, atau tumbuh sebesar 16,68 persen.
“Kenaikan ini menunjukkan bahwa secara umum daya beli petani mengalami perbaikan,” terang Ateng. Selain hortikultura, kenaikan juga terjadi pada subsektor perkebunan rakyat, peternakan, dan perikanan.
Catatan untuk Tanaman Pangan
Meski mayoritas sektor tumbuh positif, tantangan masih terlihat pada subsektor tanaman pangan. Kelompok ini menjadi satu-satunya yang mengalami sedikit koreksi, yakni turun 0,88 persen dari angka 113,43 menjadi 112,43.
Penurunan tipis ini menjadi perhatian pemerintah untuk terus menjaga stabilitas harga gabah dan jagung agar tetap menguntungkan di tingkat petani. Secara keseluruhan, perbaikan daya beli ini diharapkan terus berlanjut seiring masuknya masa panen raya di berbagai wilayah Indonesia.(*)








