Inti Berita:
• Masalah: Penemuan jejak kaki satwa liar di area perkebunan PT GGP.
• Solusi: BKSDA Lampung melakukan rapid analysis dan mitigasi konflik kategori rendah.
• Data: Jejak berukuran 13-16 cm ditemukan 350 meter dari TN Way Kambas.
(Kitani.id): Kabar mengejutkan datang dari perkebunan nanas PT Great Giant Pineapple (GGP). Petugas keamanan menemukan jejak kaki besar di tanah Lampung Timur tersebut. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu segera turun tangan memeriksa. Hasilnya, pihak berwenang memastikan itu adalah tapak kaki Harimau Sumatra asli.
Kepala Seksi KSDA Wilayah III Lampung, Itno Itoyo memberikan penjelasan resmi. Menurut Itno Itoyo, kepastian ini muncul setelah proses rapid analysis selesai. Tim membandingkan foto jejak dengan skala ukuran bungkus rokok di lapangan. “Dari hasil analisis morfologi, jejak ini paling konsisten mengarah pada Harimau Sumatra,” tegasnya, melalui keterangan yang diperoleh, Sabtu (14/2/2026).
Karakteristik Kucing Besar di Lampung Timur
Secara teknis, jejak tersebut menunjukkan empat jari telapak kaki yang tegas. Namun, tidak ada bekas kuku yang tertinggal pada permukaan tanah tersebut. Karakter ini menjadi ciri khas kelompok kucing besar atau keluarga Felidae. Bantalan tengahnya juga tampak besar dengan tiga lekukan pada bagian belakang.
Ukuran jejak ini memang tergolong sangat besar bagi satwa liar biasa. Lebar jejak mencapai 13 hingga 16 sentimeter di area perkebunan nanas. Sementara itu, panjang tapak kaki tersebut berkisar antara 14-18 sentimeter. “Hasil analisis tidak menunjukkan bekas kuku seperti pada kelompok anjing,” tambah Itno.
Lokasi Dekat Habitat Taman Nasional Way Kambas
Selanjutnya, lokasi penemuan ini hanya berjarak 350 meter dari Way Kambas. Wilayah ini memang menjadi habitat asli sekaligus koridor jelajah Harimau Sumatra. Itno Itoyo menilai kemunculan satwa ini merupakan pola perilaku yang wajar. Harimau tersebut mungkin sedang mencari mangsa atau ingin memperluas wilayah teritori.
Meskipun begitu, BKSDA menyatakan tingkat konflik manusia dan satwa masih rendah. Hingga sekarang belum ada laporan kerugian ekonomi atau korban jiwa. Namun, Itno Itoyo tetap meminta warga dan karyawan perusahaan untuk waspada. “Diperlukan identifikasi lanjutan di lapangan untuk mencegah potensi konflik ke depan,” pungkasnya.(*)








