Inti Berita:
• Nasional: Presiden Prabowo resmi umumkan Indonesia Swasembada Beras (Surplus 3,2 juta ton) hanya dalam satu tahun.
• Lokal: Produksi padi Lampung 2025 tembus 3,2 juta ton (metode KSA), naik signifikan sebesar 14,65 persen.
• Kesejahteraan: Nilai Tukar Petani (NTP) Lampung capai angka tertinggi 129,33 per November 2025.
• Target 2026: Gubernur Mirza membidik kenaikan produksi hingga 20 persen melalui pupuk organik cair dan optimalisasi lahan.
(Lingkartani.com): Sebuah torehan sejarah baru bagi kedaulatan pangan bangsa baru saja diukir. Di bawah rindangnya pepohonan di halaman Balai Desa Kutoarjo, Kabupaten Pesawaran, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengikuti detik-detik pengumuman Swasembada Pangan Nasional oleh Presiden RI Prabowo Subianto secara virtual, Rabu (7/1/2026).
Presiden Prabowo secara resmi mengumumkan bahwa Indonesia telah berhasil berdiri di atas kaki sendiri dalam hal kebutuhan beras. Capaian ini melampaui ekspektasi awal yang ditargetkan empat tahun. “Dalam satu tahun kita sudah berdiri di atas kaki kita sendiri. Kita tidak lagi tergantung bangsa-bangsa lain,” tegas Presiden Prabowo dalam siaran langsung dari Karawang, Jawa Barat.
Keberhasilan nasional ini turut membawa kabar baik bagi Mentan Andi Amran Sulaiman yang dianugerahi Bintang Jasa Utama. Presiden mengakui kerja keras Kementan dalam menjaga stok beras nasional hingga 3,2 juta ton, melampaui rekor bersejarah FAO pada tahun 1984 silam.
Lampung Jadi Motor Utama Swasembada Pangan Nasional
Sejalan dengan kinerja nasional, sektor pertanian di Bumi Ruwa Jurai menunjukkan performa yang luar biasa. Gubernur Rahmat Mirzani Djausal mengungkapkan bahwa produksi padi Lampung sepanjang 2025 mengalami lonjakan hampir 15 persen. Berdasarkan data BPS dengan metode Kerangka Sampel Area (KSA), total produksi padi Lampung mencapai 3,2 juta ton.
“Alhamdulillah, tahun ini produksi kita naik pesat. Untuk 2026, kami menargetkan kenaikan lagi sebesar 15 hingga 20 persen. Kami akan mengoptimalkan Indeks Pertanaman yang selama ini belum maksimal,” ujar Gubernur Mirza didampingi Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi yang tengah melakukan kunjungan kerja di Lampung.
Gubernur menjelaskan, kunci kesuksesan tahun 2026 terletak pada penerapan pupuk organik cair secara merata. Kebijakan ini diyakini mampu menambah produksi hingga 10 persen. Selain itu, Pemerintah Provinsi Lampung secara tegas menginstruksikan para Bupati untuk menjaga Lahan Baku Sawah (LBS) guna mencegah alih fungsi lahan yang mengancam ketahanan pangan.
Kesejahteraan Petani Meningkat dan Sinergi Antardaerah
Kabar gembira tidak hanya datang dari angka produksi, tetapi juga dari kantong para petani. Kepala Dinas KPTPH Lampung, Elvira Umihanni, menyebutkan bahwa Nilai Tukar Petani (NTP) Lampung mencapai angka 129,33. Hal ini menandakan daya beli masyarakat tani di Lampung semakin kuat seiring dengan stabilitas harga beras di lapangan.
Untuk menjaga kedaulatan ekonomi, Lampung juga memperkuat sinergi dengan Jawa Tengah melalui sistem pertukaran komoditas strategis. Lampung memasok kebutuhan gula untuk Jawa Tengah, sementara sebaliknya, Jawa Tengah menyuplai kebutuhan cabai dan bawang bagi masyarakat Lampung.
Pertanian kini resmi menjadi penopang utama ekonomi daerah dengan kontribusi mencapai 28,38 persen terhadap PDRB Lampung. Dengan stabilitas harga dan kebijakan pelarangan gabah keluar daerah, Pemerintah Provinsi Lampung optimis menatap tahun 2026 sebagai tahun penguatan Lampung sebagai lumbung pangan nasional yang mandiri dan kompetitif.(*)








