Inti Berita:
• Masalah: Komoditas perkebunan seringkali hanya dijual dalam bentuk bahan mentah sehingga keuntungan yang didapat pekebun sangat terbatas.
• Solusi: Mendorong program hilirisasi secara terintegrasi, mulai dari penyiapan lahan, CPCL, hingga pembangunan ekosistem industri produk turunan.
• Data: Fokus pada tujuh komoditas strategis, yaitu tebu, kopi, kakao, kelapa, lada, pala, dan jambu mete.
(Kitani.id): Kementerian Pertanian tengah melancarkan langkah besar untuk mengubah wajah perkebunan nasional melalui program hilirisasi.
Upaya ini bukan sekadar rencana di atas meja, melainkan sebuah kerja nyata yang melibatkan pemetaan lahan secara mendalam serta koordinasi lintas sektor yang intensif.
Pemerintah ingin memastikan bahwa setiap jengkal lahan dan setiap kelompok tani yang terlibat benar-benar siap untuk beralih dari sekadar penanam menjadi penyedia produk bernilai tinggi.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa menjual bahan mentah harus segera ditinggalkan agar ekonomi pekebun bisa lebih kuat. Fokus hilirisasi ini menyasar tujuh komoditas utama, mulai dari kopi dan kakao yang menjadi primadona, hingga lada dan pala yang kaya akan nilai sejarah.
“Kita ingin komoditas perkebunan memiliki nilai tambah yang lebih besar. Karena itu, pemerintah terus mendorong hilirisasi agar memberikan keuntungan lebih bagi pekebun,” ujar Mentan Amran Senin (14 Maret 2026).
Memastikan Kesiapan dari Hulu ke Hilir
Di lapangan, tantangan yang dihadapi tidaklah sederhana karena membutuhkan ketelitian dalam menentukan Calon Petani dan Calon Lahan (CPCL). Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perkebunan, Abdul Roni Angkat, menjelaskan bahwa pihaknya turun langsung ke berbagai daerah demi memastikan program ini berjalan optimal.
Kerja sama dengan pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan menjadi kunci agar rantai industri dari kebun hingga ke pabrik pengolahan dapat terbentuk dengan kokoh.
“Kami memetakan potensi lahan serta berkoordinasi dengan pekebun. Proses ini membutuhkan upaya yang tidak sederhana, namun menjadi langkah penting agar program hilirisasi dapat berjalan optimal,” ungkap Roni.
Ke depan, komoditas seperti tebu akan difokuskan pada produksi gula, sementara kakao didorong menjadi produk cokelat olahan yang siap masuk pasar global.
Melalui transformasi ini, subsektor perkebunan diharapkan mampu membuka lapangan kerja baru dan menjamin kesejahteraan jutaan pekebun di seluruh penjuru tanah air.(*)








