Inti Berita:
• Masalah: Harga kelapa hanya Rp1.350 dan 80% bahan baku gambir diolah di luar negeri, sehingga nilai tambah dinikmati negara lain.
• Solusi: Transformasi melalui hilirisasi kelapa, gambir, dan CPO untuk menjadi pusat pengolahan produk turunan serta energi biofuel.
• Data: Potensi nilai ekonomi Rp15.000–Rp20.000 triliun, anggaran hilirisasi Rp371 triliun, dan pertumbuhan sektor pertanian mencapai 10,52%.
(Kitani.id): Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memproyeksikan strategi hilirisasi tiga komoditas utama dapat memberikan kontribusi ekonomi luar biasa bagi negara. Pada Senin (16/2/2026), Andi Amran Sulaiman menyebut potensi pengolahan kelapa, gambir, dan CPO mencapai Rp20.000 triliun.
Angka fantastis ini setara dengan tujuh tahun Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Langkah strategis tersebut menjadi kunci utama bagi Indonesia untuk keluar dari middle income trap atau jebakan pendapatan menengah.
Nilai Tambah Kelapa dan Gambir Melonjak Ratusan Kali Lipat
Indonesia saat ini menempati posisi sebagai produsen kelapa nomor satu di dunia. Namun, tantangan besar muncul karena harga kelapa di tingkat petani masih tertahan di angka Rp1.350 per butir.
Melalui hilirisasi menjadi coconut milk dan coconut water, nilai jualnya berpotensi naik hingga 100 kali lipat. Secara statistik, nilai ekspor saat ini sebesar Rp24 triliun dapat melonjak hingga Rp5.000 triliun melalui pengolahan dalam negeri.
“Sedihnya gambir kita diekspor, diolah di luar, lalu dijual kembali ke dunia. Potensinya Rp5.000 triliun. Kita mau berubah atau tidak?” ujar Andi Amran Sulaiman saat menyoroti 80% bahan baku gambir dunia yang dikuasai Indonesia.
Dominasi CPO dan Strategi Kemandirian Energi
Sektor perkebunan sawit juga menjadi pilar utama dengan penguasaan 60–70% pasar global. Dengan memperkuat hilirisasi CPO menjadi biofuel, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada impor solar secara signifikan.
Jika saat ini nilainya baru menyentuh Rp549 triliun, maka hilirisasi penuh bisa mendongkraknya hingga Rp5.000 triliun. Untuk mendukung visi ini, pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp371 triliun selama tiga tahun ke depan.
“Hilirisasi itu bukan pilihan, tapi keharusan. Kita punya bahan baku terbesar dunia, tapi nilai tambahnya dinikmati negara lain. Ini yang harus kita ubah,” tegas Andi Amran Sulaiman.
Sejalan dengan itu, produktivitas beras nasional saat ini tercatat berada pada posisi tertinggi sepanjang sejarah Indonesia merdeka. Sektor pertanian juga memberikan kontribusi signifikan dengan pertumbuhan 10,52% sebagai penopang utama PDB nasional.
Berkat capaian ini, Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) memberikan dua penghargaan bergengsi bagi Indonesia dalam satu tahun terakhir. (*)








