Inti Berita:
• Masalah: Infrastruktur jalan kabupaten di Lampung Utara baru mencapai 46,67% dan komoditas pertanian masih banyak dijual mentah.
• Solusi: Penguatan hilirisasi komoditas unggulan (singkong, jagung, kopi) dan integrasi program Desaku Maju dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
• Data: IPM Lampung Utara berada di angka 72,28. Pemprov Lampung mengalokasikan Rp40,52 miliar untuk perbaikan jalan provinsi di wilayah setempat pada 2026.
(Kitani.id): Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mendorong percepatan pembangunan di Lampung Utara melalui penguatan sektor hilirisasi pertanian. Langkah ini dinilai strategis untuk meningkatkan nilai tambah produk lokal seperti ubi kayu, jagung, hingga kopi agar tidak lagi dijual dalam bentuk mentah.
Pernyataan tersebut disampaikan saat membuka Musrenbang RKPD Kabupaten Lampung Utara Tahun 2027 di Kotabumi, Kamis (26 Maret 2026). Mirza, sapaan akrab gubernur, menekankan bahwa kekayaan bumi Lampung Utara harus dikelola oleh sumber daya manusia yang terampil.
Fokus pada Nilai Tambah Petani
Pemerintah Provinsi Lampung melihat potensi besar pada komoditas ubi kayu, jagung, padi, kedelai, kopi, karet, hingga pisang di Lampung Utara. Oleh karena itu, hilirisasi pertanian menjadi mesin utama untuk mendongkrak kesejahteraan masyarakat perdesaan secara berkelanjutan.
“Hilirisasi menjadi kunci agar komoditas tidak lagi dijual mentah, tetapi memberikan nilai ekonomi lebih besar bagi petani,” ujar Mirza.
Selain itu, kualitas SDM petani juga menjadi perhatian serius agar mampu mengoperasikan teknologi pengolahan hasil bumi. Peningkatan kompetensi tenaga kerja ini diharapkan selaras dengan kebutuhan dunia industri yang mulai masuk ke wilayah Lampung Utara.
Konektivitas dan Program Desaku Maju
Dukungan infrastruktur tetap menjadi prioritas untuk memperlancar distribusi hasil panen dari desa ke kota. Pada tahun 2026, Pemprov Lampung mengalokasikan anggaran Rp40,52 miliar guna memperbaiki jalan provinsi di Lampung Utara sepanjang 5,39 kilometer.
Pembangunan ini melengkapi Program Desaku Maju yang memberikan bantuan konkret berupa pupuk organik cair (POC) hingga mesin pengering (dryer). Program tersebut terbukti sukses meningkatkan produksi pertanian hingga 30 persen, seperti yang terjadi di Desa Wonomarto.
“Kami ingin perputaran ekonomi dari program nasional benar-benar dirasakan oleh petani dan pelaku UMKM di desa,” tegas Mirza saat membahas integrasi pangan lokal dengan program Makan Bergizi Gratis.(*)








