Inti Berita:
• Masalah: Stok kakao dunia menipis akibat konflik global dan alih fungsi lahan di Afrika menjadi tambang.
• Solusi: Pemerintah siapkan total Rp9,95 triliun untuk peremajaan berbagai komoditas (termasuk kakao) dan investasi hilirisasi Rp371 triliun melalui Danantara.
• Data: Harga kakao global melonjak, menjadi peluang bagi Indonesia sebagai salah satu produsen utama.
(Kitani.id): Kabar gembira bagi para petani cokelat di tanah air. Saat ini, tren harga kakao dunia meningkat dengan sangat signifikan. Lonjakan harga ini dipicu oleh menyusutnya pasokan global.
Salah satu penyebab penyusutan pasokan global tersebut yakni setelah lahan perkebunan di Afrika dialihfungsikan menjadi tambang, ditambah dampak peperangan yang mengganggu distribusi.
Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono atau yang akrab disapa Mas Dar, melihat fenomena ini sebagai peluang emas. Menurutnya, Indonesia harus segera mengambil posisi karena kakao merupakan salah satu komoditas unggulan kita yang sedang sangat dicari pasar internasional.
Anggaran Peremajaan untuk Komoditas Unggulan
Menyikapi tren harga kakao dunia meningkat, pemerintah bergerak cepat memperkuat produktivitas lahan.
Pemerintah menggelontorkan total anggaran sebesar Rp9,95 triliun untuk peremajaan sejumlah komoditas strategis, termasuk kakao, kelapa, pala, lada, mete, gambir, hingga tebu.
Dana yang disalurkan dalam kurun waktu tiga tahun ini bertujuan agar petani memiliki akses terhadap bibit unggul yang terstandar.
“Kita remajakan bibitnya yang sesuai, yang terstandar, cara pengelolaannya yang bener, maka produktivitasnya tinggi, petaninya tambah sejahtera,” tutur Mas Dar, Kamis (12 Maret 2026).
Strategi Hilirisasi Tanpa Beban APBN
Pemerintah juga memastikan agar hasil panen petani tidak hanya dijual sebagai bahan mentah. Strategi besar hilirisasi pun disiapkan dengan nilai investasi fantastis mencapai Rp371 triliun untuk membangun ekosistem industri yang kuat.
Proyek ini menarik karena tidak menggunakan dana APBN, melainkan dikelola oleh BPI Danantara bersama pihak swasta.
“Leadernya Danantara, melibatkan pihak swasta dan petani. Total investasi di hilirisasi ini Rp371 triliun,” jelas Mas Dar.
Dengan perbaikan kualitas kebun melalui dana peremajaan dan ketersediaan pabrik pengolahan, tren harga kakao dunia meningkat diharapkan menjadi momentum kesejahteraan bagi petani Indonesia, khususnya di sentra-sentra perkebunan seperti Lampung. (*)








