Inti Berita:
• Masalah: Produktivitas lada Lampung anjlok dari 2 ton menjadi hanya 500–700 kg per hektare akibat tanaman tua dan hama.
• Solusi: Peremajaan bibit unggul, penerapan teknologi budidaya modern, pemupukan terukur, dan pengairan optimal.
• Data: Luas lahan lada Lampung mencapai 46 ribu hektare dengan total produksi sekitar 16 ribu ton per tahun.
(Kitani.id): Lada hitam Lampung merupakan bumbu utama dunia yang menjadi kebanggaan kita semua. Namun, saat ini kondisi tanaman lada di tanah Lampung sedang tidak baik-baik saja. Luas lahan mencapai 46 ribu hektare, tetapi hasilnya belum maksimal bagi petani.
Data menunjukkan produksi lada Lampung hanya sekitar 16 ribu ton per tahun. Angka ini sangat rendah jika dibandingkan dengan potensi asli lahan subur Lampung. Padahal, lada berpotensi sebagai sumber devisa utama
Tantangan Berat Petani Lada Lampung
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan Kementan, Kuntoro Boga, mengungkapkan fakta yang cukup memprihatinkan. Dalam tiga dekade, produktivitas lada Lampung menurun drastis dari 2 ton menjadi 700 kg. Penurunan ini terjadi karena banyak kebun sudah tua dan kurang pemeliharaan intensif.
“Rata-rata produktivitas lada Indonesia saat ini hanya sekitar 700–800 kg per hektare,” ujar Kuntoro Boga, seperti dilansir Kompas. Angka ini tertinggal jauh dari Vietnam yang mampu menembus 2,6 ton. Selain hama, minimnya minat generasi muda menjadi ancaman nyata bagi keberlanjutan sektor ini.
Strategi Modernisasi dan Peremajaan Kebun
Penerapan teknologi budidaya modern menjadi kunci utama untuk mendongkrak hasil panen kita. Petani lada Lampung perlu mulai beralih menggunakan bibit unggul yang tahan penyakit. Secara teoritis, varietas unggul ini mampu menghasilkan hingga 4 ton per hektare.
Selain itu, sistem pengairan yang optimal dan pemupukan terukur harus segera diterapkan. Jika pola lama tetap bertahan, posisi tawar petani akan terus melemah di pasar. Mari kita rawat kembali kejayaan rempah Lampung agar tidak kalah bersaing.(*)








