(Kitani.id): Sektor pertanian di Bumi Ruwa Jurai berada dalam bayang-bayang kegagalan panen massal akibat fenomena El Nino. Tanpa langkah mitigasi yang terukur, penurunan produksi pangan tidak hanya memicu kerugian bagi petani, tetapi juga menyebabkan lonjakan harga kebutuhan pokok di pasar.
Kondisi ini menjadi ancaman serius bagi pertumbuhan ekonomi Lampung yang selama ini sangat bergantung pada hasil bumi. Berdasarkan data BMKG, sebagian besar wilayah Lampung akan memasuki musim kemarau mulai Mei dengan puncak kekeringan pada Juli hingga September 2026.
Tantangan besar kini muncul karena Lampung harus menjaga tren positif produksi padi yang sebelumnya naik dari 2,73 juta ton pada 2024 menjadi 3,25 juta ton GKG pada 2025. Pemerintah daerah kini dituntut bergerak kompak guna mengamankan lumbung pangan ini dari dampak cuaca ekstrem.
Langkah ini sangat krusial karena stabilitas stok pangan di Lampung berpengaruh langsung pada harga ayam, telur, hingga beras di meja makan keluarga. Sebagai sentra pangan nasional, gangguan produksi di Lampung akan memicu efek domino kenaikan inflasi yang memberatkan daya beli masyarakat luas.
Oleh sebab itu, sinergi antara pemerintah dan petani dalam mengelola sumber daya air menjadi kunci utama untuk bertahan melewati musim kemarau panjang.
Strategi Taktis dan Kolaborasi
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, menginstruksikan seluruh jajaran kabupaten/kota untuk segera menetapkan status siaga. Penguatan infrastruktur air seperti perbaikan irigasi dan penyediaan sumur bor harus menjadi prioritas utama di lapangan.
“Fenomena ini akan sangat memengaruhi produksi pangan kita. Karena itu, kita harus kompak, bersinergi, dan berkolaborasi melakukan langkah mitigasi sejak dini,” ujar Mirza dalam Rakor Mitigasi El Nino di Gedung Pusiban, Jumat (10 Jumat 2026).
Pemerintah Provinsi juga mendorong petani untuk lebih adaptif dengan mempercepat masa tanam sebelum kemarau mencapai puncaknya. Penggunaan benih yang tahan terhadap kekeringan menjadi rekomendasi utama untuk meminimalisir risiko puso.
Dampak Ekonomi Luas
Peran Lampung sebagai penyangga pangan nasional membuat setiap penurunan produksi akan terasa hingga ke luar daerah. Selain padi, komoditas seperti jagung dan singkong juga harus mendapat perhatian ekstra.
“Pertumbuhan ekonomi Lampung sangat ditopang sektor pertanian. Jika produksi terganggu, maka ekonomi juga ikut terdampak,” tambah Mirza.
Melalui sistem peringatan dini berbasis data dan optimalisasi sumber daya air, Pemprov Lampung berkomitmen menjaga cadangan pangan tetap aman. Fokus utama saat ini adalah memastikan seluruh jaringan irigasi berfungsi maksimal untuk mendukung keberlanjutan usaha tani di tengah ancaman El Nino. (*)








