(Kitani.id): Kabar baik bagi kawan-kawan petani di Lampung. Di tengah carut-marut pasokan pupuk dunia, PT Pupuk Indonesia (Persero) justru semakin memperkokoh posisinya untuk menjaga sawah kita tetap hijau.
Perusahaan pelat merah ini berkomitmen mendahulukan kebutuhan dalam negeri sebelum melirik pasar ekspor. Langkah ini menjadi angin segar demi menjaga ketahanan pangan nasional kita.
Agar produksi tetap lancar, Pupuk Indonesia berencana melakukan revitalisasi pada tujuh pabrik dalam lima tahun ke depan. Transformasi ini bukan sekadar gaya-gayaan, melainkan upaya meningkatkan efisiensi agar distribusi ke daerah-daerah tidak lagi terhambat.
Apalagi, kini sistem distribusi makin efektif berkat dukungan regulasi terbaru dari pemerintah. Kabar yang paling terasa di dompet petani adalah penurunan Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar 20% sejak tahun lalu.
Kebijakan ini terbukti manjur. Pada kuartal I 2026, penyerapan pupuk bersubsidi tercatat melonjak hingga 31%. Hal ini menandakan bahwa pupuk kini lebih mudah diakses dan terjangkau bagi para pejuang pangan di lapangan.
Prioritas Utama Untuk Petani Domestik
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menjelaskan bahwa pasokan untuk petani adalah harga mati. Meskipun Indonesia punya kapasitas produksi urea mencapai 9,4 juta ton, ekspor hanya akan dilakukan jika stok di gudang-gudang daerah sudah benar-benar melimpah.
“Setelah kebutuhan domestik terpenuhi, terdapat potensi ekspor sekitar 1,5 hingga 2 juta ton untuk mendukung stabilitas pasar global,” ungkap Rahmad, Senin (6 April 2026).
Senada dengan hal itu, Komisaris Utama Pupuk Indonesia, Sudaryono, menilai kekuatan industri ini adalah modal besar bagi bangsa. Melalui tema “Transform, Sustain, Empower” di usia ke-14, Pupuk Indonesia ingin memastikan petani tidak lagi kesulitan mencari sarana produksi.
Dengan sistem pembayaran subsidi yang lebih cepat di muka, perusahaan kini memiliki ruang gerak lebih luas untuk mengamankan bahan baku demi musim tanam yang sukses.(*)








