Inti Berita:
• Masalah: Banyak Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) belum mandiri dan ragu menyusun rencana kelola jangka panjang.
• Solusi: Kemenhut mendorong KUPS menjadi pemasok program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan fokus pada komoditas pangan serta energi.
• Data: Masa hak pengelolaan perhutanan sosial berlaku selama 35 tahun dengan Rencana Kelola Perhutanan Sosial (RKPS) setiap 10 tahun.
(Kitani.id): Direktur Jenderal Perhutanan Sosial Kementerian Kehutanan, Catur Endah Prasetiani mengusulkan agar Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Langkah strategis ini bertujuan menggerakkan roda ekonomi warga sekitar hutan secara langsung. Catur mengaku sudah membahas keterlibatan KUPS ini dengan beberapa menteri. Kerja sama dengan berbagai pihak terus diperkuat agar produk lokal dari Lampung dan daerah lain bisa masuk dalam rantai pasok pangan nasional.
“Inilah perlunya kerja sama dengan para pihak untuk mendukung pangan lokal,” ujar Catur, saat menjelaskan peluang program MBG tersebut, Senin (23 Februari 2026).
Madu Sachet dan Kemandirian Ekonomi Kelompok
Catur mengajak kelompok usaha mulai berinovasi pada kemasan produk, salah satunya mengemas madu hutan dalam bentuk sachet. Produk praktis ini nantinya bisa dipasarkan langsung untuk memenuhi kebutuhan gizi anak sekolah.
Pola konsumsi madu diharapkan menjadi kebiasaan baru bagi masyarakat untuk memperkuat daya tahan tubuh. Dengan cara ini, ekonomi masyarakat yang tergabung dalam KUPS akan tumbuh lebih stabil melalui penyerapan produk yang berkelanjutan.
Namun, peningkatan kapasitas kelembagaan tetap menjadi tugas utama dari kementerian terkait. Kelompok usaha diimbau segera menyusun Rencana Kelola Perhutanan Sosial (RKPS) sebagai panduan kerja kelompok untuk jangka waktu sepuluh tahun ke depan.
Tanaman Aren untuk Mitigasi Bencana dan Energi
Selain pangan, Catur juga menyarankan pemilihan jenis tanaman yang tepat seperti sukun dan aren untuk menahan bencana tanah longsor. Khusus pohon aren, nira yang dihasilkan dapat difermentasi menjadi bioetanol sebagai sumber energi terbarukan.
Penanaman aren kini menjadi bagian dari program strategis nasional. KUPS diharapkan jeli melihat peluang ini demi meningkatkan kelas kelompok usaha mereka agar memiliki modal dan pendampingan yang lebih kuat.
“Dibuat seperti tahu bulat yang digoreng dadakan demi meningkatkan kelas kelompoknya,” tutur Catur menyemangati para anggota KUPS agar tidak ragu merevisi rencana kerja.(*)








