Inti Artikel:
• Masalah: Produksi lada Lampung merosot tajam dari 50 ribu ton (era 70-an) menjadi hanya kisaran 15 ribu ton di tahun 2026. Petani mulai kehilangan kepercayaan.
• Solusi: Perlu peremajaan kebun secara massal, intervensi penyakit busuk pangkal batang, dan jaminan perlindungan harga bagi petani.
• Data: Harga lada saat ini Rp90.000–Rp110.000/kg, namun produktivitas hanya 500–700 kg/hektar (jauh di bawah Vietnam yang mencapai 2 ton/hektar).
Kitani.id): Sekitar tahun 1990-an, saya masih mengingat dengan jelas bagaimana kampung kami di Mulang Maya, Lampung Utara, berubah wajah setiap memasuki musim lada—sekitar bulan Juli hingga Oktober. Saat itu, kami menyebutnya “mutil lada.”
Kebun-kebun mendadak ramai. Anak-anak, orang tua, hingga remaja turun bersama-sama membantu panen. Tanaman lada yang merambat tinggi di pohon sandaran membuat kami harus membuat tangga terlebih dahulu.
Itu bukan sekadar kerja, tapi bagian dari ritus musim yang dinanti. Dan bagi kami anak-anak, musim itu adalah kegembiraan.
Setelah lada kering, orang tua memberi jatah untuk kami jual sendiri ke toko hasil bumi. Nilainya mungkin tidak besar, tetapi cukup untuk menambah uang jajan dan rasa bangga. Meski telapak kaki kami memerah karena menginjak lada dalam proses pengolahan yang masih manual, tak ada keluhan. Yang ada hanya tawa dan kebersamaan.
Semua bersukacita. Semua menunggu musim itu. Namun hari ini, suasana itu perlahan menghilang.
Ketika “Bumi Lada” Tinggal Sebutan
Lampung pernah menyebut dirinya “Bumi Lada.” Sebuah identitas yang lahir dari sejarah panjang, ketika daerah ini menjadi salah satu produsen lada hitam terbesar di dunia. Nama “Lampung Black Pepper” bukan sekadar komoditas, tetapi standar mutu global dan simbol kejayaan ekonomi.
Namun memasuki tahun 2026, kenyataan di lapangan bergerak ke arah yang berlawanan.
Bukan hanya produksi yang menurun. Bukan hanya produktivitas yang melemah. Tetapi yang lebih mengkhawatirkan: petani lada mulai meninggalkan komoditas ini.
Dan ketika petani mulai pergi, sejarah sebesar apa pun tidak akan mampu menyelamatkan masa depan.
Stagnasi yang Terlihat Stabil
Data terbaru menunjukkan produksi lada Lampung:
2024: sekitar 15.791 ton
2025 (target): sekitar 15.225 ton
2026 (tren): berkisar 15 ribu ton
Sekilas, angka ini tampak stabil. Namun stabilitas ini menipu. Jika ditarik ke belakang:
2014: masih di atas 23 ribu ton
1970-an: pernah mencapai 50 ribu ton
Artinya, dalam jangka panjang, Lampung telah kehilangan lebih dari separuh kapasitas produksinya. Maka yang kita lihat hari ini bukan kestabilan, melainkan stagnasi setelah kemunduran panjang.
Lebih ironis lagi, penurunan target produksi pada 2025 menunjukkan pengakuan diam-diam bahwa sektor ini belum siap bangkit.
Paradoks Lahan Luas
Lampung masih memiliki sekitar 45 ribu hektare kebun lada. Namun struktur lahannya mengungkap realitas berbeda:
±31 ribu hektare menghasilkan
±8 ribu hektare belum menghasilkan
±5.248 hektare dalam kondisi rusak
Dengan komposisi seperti ini, potensi besar itu justru terkunci dalam ketidakproduktifan.
Wilayah seperti Lampung Utara, Tanggamus, Lampung Barat, Way Kanan, dan Lampung Timur memang masih menjadi sentra utama. Namun bahkan di sana, tekanan terhadap keberlanjutan lada semakin nyata.
Produktivitas Rendah, Masalah Lama
Rata-rata produktivitas lada Lampung saat ini hanya sekitar 500–700 kg per hektare. Bandingkan dengan Vietnam yang mampu menembus lebih dari 2 ton per hektare.
Masalahnya klasik: Tanaman tua tanpa peremajaan, serangan penyakit terutama busuk pangkal batang, minim inovasi dan teknologi, serta pendampingan yang tidak berkelanjutan
Masalah lama ini terus berulang, tanpa penyelesaian yang benar-benar tuntas.
Harga Naik, Tapi Kepercayaan Turun
Pada 2025–2026, harga lada hitam berada di kisaran Rp90.000–Rp110.000 per kilogram. Secara teori, ini seharusnya menjadi momentum kebangkitan.
Namun produksi tetap stagnan. Mengapa? Karena persoalannya bukan lagi harga, melainkan kepercayaan. Petani telah terlalu lama menghadapi ketidakpastian.
Ketika harga jatuh, tidak ada perlindungan. Ketika penyakit datang, tidak ada solusi cepat. Ketika produksi turun, tidak ada jaminan. Akibatnya, ketika harga naik, respons petani tidak lagi spontan.
Gelombang Sunyi, Beralih ke Singkong
Di banyak wilayah, petani tidak lagi sekadar mengeluh—mereka beralih.
Kebun lada: ditebang, ditinggalkan atau dibiarkan mati. Sebagai gantinya, singkong mengambil alih lanskap pertanian.
Fenomena ini meluas seperti di Lampung Utara, Way Kanan, dan Lampung Timur.
Alasannya sederhana karena perawatan lebih mudah, modal lebih kecil, panen lebih cepat, serta risiko lebih rendah. Dalam bahasa petani: “Singkong tidak bikin kaya, tapi tidak bikin bangkrut.”
Dan dalam ketidakpastian ekonomi, kalimat itu cukup untuk mengubah arah sejarah pertanian.
Dampak yang Nyata. Peralihan ini membawa konsekuensi besar, di mana lada kehilangan lahan nyata. Secara administratif mungkin masih tercatat, tetapi secara faktual banyak kebun tidak lagi dirawat atau telah berubah fungsi.
Produksi terkunci. Dengan berkurangnya petani aktif dan rusaknya kebun, produksi sulit meningkat bahkan saat harga tinggi.
Regenerasi terhenti. Generasi muda tidak lagi melihat lada sebagai masa depan. Yang mereka lihat adalah kerja keras dengan hasil yang tidak pasti.
Kebijakan yang Selalu Tertinggal
Dalam situasi seperti ini, negara seharusnya hadir sebagai penentu arah. Namun yang terjadi program peremajaan berjalan lambat, penanganan penyakit tidak masif, insentif harga tidak konsisten, dan hilirisasi belum menjadi arus utama.
Akibatnya, petani bergerak sendiri. Kebijakan justru berjalan di belakang kenyataan.
Dari Bumi Lada ke Bumi Singkong.
Perubahan ini tidak diumumkan secara resmi, tetapi berlangsung nyata.
Jika tren ini terus berlanjut, identitas Lampung akan berubah bukan karena keputusan pemerintah, tetapi karena pilihan petani. Dari “Bumi Lada” menjadi “Bumi Singkong.” Dan perubahan ini, jika dibiarkan, akan bersifat permanen.
Masih Ada Harapan—Jika Tidak Terlambat. Lampung sebenarnya masih memiliki semua syarat untuk bangkit: Lahan luas, reputasi global, indikasi geografis, dan pengalaman panjang.
Namun semua itu tidak cukup tanpa langkah konkret: Peremajaan besar-besaran, intervensi serius terhadap penyakit, serta jaminan harga yang melindungi petani, kemudian penguatan industri hilir
Krisis yang Tak Terlihat
Masalah terbesar lada Lampung hari ini bukan pada angka produksi. Bukan pada luas lahan. Bahkan bukan pada harga.
Masalah utamanya adalah kepercayaan petani telah runtuh. Dan ketika kepercayaan itu hilang lahan tidak lagi dirawat, tanaman tidak lagi ditanam, lalu masa depan tidak lagi diperjuangkan.
Lampung hari ini tidak kekurangan lada. Lampung juga tidak kekurangan sejarah. Yang mulai hilang—perlahan, senyap, dan nyaris tak disadari—adalah keyakinan bahwa lada masih layak diperjuangkan.(*)
![(Penulis: Abung Mamasa (Ketua Ikatan Jurnalis Provinsi [IJP] Lampung)](https://kitani.id/wp-content/uploads/2026/03/3f151f85-0731-4f49-a929-3f5ce1b83ffc-196x300.jpeg)








