Inti Berita:
• Masalah: Komoditas perkebunan sering dijual mentah sehingga nilai tambah dan kesejahteraan petani rendah.
• Solusi: Membangun ekosistem hilirisasi terintegrasi dari penyiapan lahan, CPCL, hingga pengolahan produk turunan.
• Data: Fokus pada 7 komoditas strategis (tebu, kopi, kakao, kelapa, lada, pala, jambu mete) dengan koordinasi lintas sektor di wilayah potensial seperti Jawa Timur.
(Kitani.id): Kementerian Pertanian tengah memacu langkah besar untuk mendorong hilirisasi sub sektor perkebunan nasional. Plt. Direktur Jenderal Perkebunan, Abdul Roni Angkat, menegaskan bahwa upaya ini bukan sekadar program di atas kertas.
Namun, merupakan perjuangan panjang di lapangan untuk memastikan kesiapan lahan dan petani.
Menurut Roni, proses penyiapan hilirisasi membutuhkan kerja keras dan koordinasi intensif. Pihaknya harus memastikan Calon Petani dan Calon Lahan (CPCL) benar-benar siap di berbagai daerah.
Tentunya, tantangan di lapangan sangat beragam, mulai dari pemetaan potensi wilayah hingga faktor cuaca yang memengaruhi budidaya.
“Kami turun langsung ke daerah untuk memastikan kesiapan CPCL serta memetakan potensi lahan yang ada. Proses ini memang tidak sederhana, namun menjadi langkah penting agar program hilirisasi berjalan optimal,” katanya seperti dilansir pertanian.go.id, baru-baru ini.
Bangun Ekosistem Terintegrasi
Lebih lanjut Roni menjelaskan bahwa hilirisasi tidak boleh berjalan secara parsial atau terpisah-pisah. Dia menekankan pentingnya membangun ekosistem industri yang menyatu dari hulu hingga ke hilir.
Hal ini mencakup seluruh rantai nilai, mulai dari produksi, pengolahan, hingga strategi pemasaran produk jadi.
“Hilirisasi perkebunan harus dibangun berbasis ekosistem yang terintegrasi. Dengan sinergi kuat antarsektor, termasuk dukungan aparat penegak hukum, target kesejahteraan petani dapat tercapai,” tegasnya.
Langkah strategis ini mencakup pengembangan produk turunan seperti gula dari tebu hingga olahan cokelat dari kakao. Dengan begitu, pekebun di Lampung dan wilayah lainnya tidak lagi hanya menjadi penyedia bahan mentah.
Harapannya, industri ini mampu membuka peluang usaha baru dan meningkatkan pendapatan masyarakat perdesaan secara signifikan.(*)








