Inti Berita:
Masalah: Utilisasi industri tapioka dalam negeri baru 43% dan Indonesia masih mengimpor pati ubi kayu senilai 73,8 juta dolar AS.
Solusi: Gubernur Lampung meminta pusat menahan impor dan mendorong industri nasional menggunakan produk lokal.
Data: Kapasitas pabrik di Lampung mencapai 21 juta ton ubi kayu/tahun dengan potensi 4,2 juta ton tepung tapioka.
(Kitani.id): Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, menyampaikan permintaan tegas kepada pemerintah pusat. Ia meminta agar keran impor tepung tapioka segera ditahan.
Langkah ini sangat beralasan karena Lampung adalah produsen ubi kayu terbesar. Saat ini, terdapat lebih dari 60 pabrik pengolahan tapioka yang beroperasi di Bumi Ruwa Jurai.
Menurut Gubernur Mirza, ubi kayu adalah tulang punggung ekonomi Lampung. Selama 60 tahun lebih, ratusan ribu petani menggantungkan hidupnya pada komoditas ini.
“Kapasitas terpasang pabrik kita mencapai 21 juta ton ubi kayu per tahun,” ujar Mirza dalam acara Business Matching di Jakarta, Kamis (22/1/2026).
Komitmen Lampung Penuhi Kebutuhan Tapioka Nasional
Dengan perhitungan yang ada, Lampung mampu menghasilkan 4,2 juta ton tepung tapioka setiap tahunnya. Jumlah ini dinilai sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan industri di Indonesia.
Mirza menjamin kualitas tapioka Lampung sangat baik dengan harga yang bersaing. Ia juga memastikan pasokan akan tetap stabil sepanjang tahun bagi industri nasional.
Namun, ia menekankan perlunya dukungan kebijakan dari pemerintah pusat yang konsisten. Ada tiga poin utama yang diusulkan Mirza untuk melindungi petani dan pengusaha lokal.
Pertama, industri pengguna wajib mengutamakan tapioka dalam negeri. Kedua, stop impor selama stok lokal masih ada. Ketiga, perlu adanya pengaturan harga tapioka secara nasional.
Data Menteri Perindustrian menunjukkan bahwa impor pati ubi kayu memang mulai menurun pada 2025. Meski begitu, nilai impornya masih tergolong besar bagi negara agraris.
Gubernur Mirza berharap tata niaga di daerah bisa lebih efektif jika ada keseragaman aturan. Perlindungan bagi petani singkong di Lampung pun menjadi prioritas utama pemerintah provinsi.(*)








