Inti Berita:
• Masalah: Selama ini kebutuhan pangan jamaah haji Indonesia di Arab Saudi sering kali dipasok oleh beras dari negara lain dengan harga yang cukup tinggi.
• Solusi: Pemerintah memulai ekspor perdana beras premium hasil petani dalam negeri sebanyak 2.280 ton untuk memenuhi kebutuhan logistik jamaah haji tahun 2026.
• Data: Stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) saat ini sangat kuat mencapai 3,7 juta ton, yang sepenuhnya berasal dari serapan produksi petani lokal di awal tahun 2026.
(Kitani.id): Kebanggaan besar menyelimuti sektor pertanian tanah air. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, beras hasil keringat petani Indonesia akan tersaji di meja makan para jamaah haji di tanah suci.
Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa Indonesia telah kembali pada jalur swasembada pangan yang tangguh.
Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa ekspor ini bukanlah sekadar wacana. Sebanyak 2.280 ton beras kualitas premium telah disiapkan untuk dikirim ke Arab Saudi guna memenuhi kebutuhan konsumsi 205.420 jamaah dan petugas haji kita.
“Ini aksi nyata, bukan ilusi. Kita ekspor dua ribuan ton lebih, tepatnya 2.280 ton. Ini adalah momentum yang baik dan terbesar sepanjang sejarah di bulan Maret,” ungkap Amran dalam keterangannya, Kamis (5 Maret 2026).
Keputusan untuk mengekspor beras ini diambil karena kondisi stok pangan dalam negeri sedang berada di posisi yang sangat aman. Dengan cadangan mencapai 3,7 juta ton, pemerintah memastikan kebutuhan konsumsi masyarakat di tanah air tetap tercukupi sebelum memutuskan untuk melepasnya ke pasar internasional.
Beras Segar dari Petani Lokal
Menariknya, beras yang dikirimkan ini merupakan hasil gilingan gabah segar yang baru saja diserap dari petani pada awal tahun 2026. Standar kualitas yang ditetapkan pun tidak main-main, yakni beras premium dengan tingkat pecahan minimal (5 persen), sesuai dengan standar internasional.
Selain untuk jamaah haji, pemerintah juga tengah membidik peluang ekspor ke negara-negara tetangga. Beberapa negara seperti Papua Nugini, Malaysia, dan Filipina sudah masuk dalam daftar penjajakan pasar selanjutnya.
“Khusus untuk jamaah haji dan umroh kita di Arab Saudi, perkiraannya antara 20 ribu sampai 50 ribu ton. Kemudian nanti kita ekspansi lagi ke negara lainnya,” tambah Amran.
Proses pengiriman ini sudah dimulai dengan pengumpulan stok di Pelabuhan Tanjung Priok. Rencananya, pengapalan pertama akan dilaksanakan pada Sabtu (7 Maret 2026) mendatang secara bertahap.
Langkah inovatif ini diharapkan tidak hanya membantu jamaah mendapatkan nasi yang akrab di lidah, tetapi juga memberikan efisiensi biaya logistik bagi pemerintah.(*)








