Inti Berita:
• Masalah: Limbah cair pabrik sawit (POME) mencapai 0,90 m^3 per ton TBS dan berpotensi mencemari lingkungan jika hanya mengandalkan kolam konvensional.
• Solusi: Teknologi EC+ (elektrokoagulasi) berbasis arus listrik searah untuk memisahkan polutan tanpa bahan kimia tambahan.
• Data/Biaya: Biaya operasional 50% lebih murah dibanding metode kimia, dengan konsumsi listrik sekitar 9,80 kWh per meter kubik limbah.
(Kitani.id) Industri sawit menghadapi tantangan besar terkait dampak lingkungan, terutama persoalan limbah cair yang dihasilkan pabrik pengolahan. Data Forest Watch Indonesia mencatat kerusakan hutan mencapai 23 juta hektar sejak 2001, yang diperparah dengan potensi pencemaran dari operasional pabrik.
Dosen IPB University, Prof Suprihatin, mengungkapkan bahwa setiap ton tandan buah segar (TBS) menghasilkan limbah cair sekitar 0,75 hingga 0,90 m^3. Jumlah ini setara dengan 3,33 m^3 limbah per ton minyak sawit mentah (CPO) yang dihasilkan.
“Limbah tersebut mengandung berbagai polutan seperti padatan tersuspensi (TSS), bahan organik, minyak dan lemak, serta nutrien yang berpotensi mencemari lingkungan,” jelas Prof Suprihatin pada Jumat (13 Maret 2026).
Teknologi EC+ Lebih Efisien dari Sistem Kolam
Selama ini, banyak pabrik sawit masih mengandalkan sistem kolam anaerobik-aerobik konvensional. Namun, metode tersebut dinilai kurang efektif dan efisien dalam membersihkan polutan secara tuntas.
Sebagai terobosan, Prof Suprihatin mengembangkan teknologi EC+. Inovasi ini menggunakan arus listrik searah untuk melepaskan ion positif yang mampu mengikat kontaminan dalam limbah cair tanpa perlu campuran bahan kimia seperti tawas.
“Proses ini efektif menghilangkan TSS, COD, BOD, warna, hingga minyak dan lemak. Air limbah dapat menjadi bersih dan layak digunakan kembali,” papar Prof Suprihatin mengenai keunggulan teknis temuan yang masuk dalam 117 Inovasi Indonesia-2025 tersebut.
Hemat Biaya dan Bisa Jadi Pupuk Organik
Selain ramah lingkungan, teknologi EC+ menawarkan efisiensi ekonomi yang signifikan bagi pelaku industri. Biaya pengolahannya diklaim 50% lebih murah daripada metode koagulasi kimia tradisional karena minimnya penggunaan input tambahan.
Menariknya, endapan atau sludge yang dihasilkan dari proses ini tidak dibuang sia-sia. Sisa pengolahan tersebut dapat dimanfaatkan petani sebagai pupuk organik atau pembenah tanah untuk meningkatkan kesuburan lahan sawit.
“Endapan yang dihasilkan bahkan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik atau pembenah tanah. Prosesnya cepat, modular, dan mudah untuk ditingkatkan skalanya,” tambah pakar dari IPB tersebut.
Prof Suprihatin berharap inovasi ini mendukung konsep zero waste di industri sawit. Air hasil olahan EC+ nantinya bisa digunakan kembali untuk menyiram tanaman atau membersihkan peralatan pabrik, sehingga menciptakan siklus air yang tertutup dan berkelanjutan. (*)








