Inti Berita
• Masalah: Keterbatasan lahan di wilayah perkotaan (urban farming) dan kebutuhan akan teknologi budidaya yang praktis serta aplikatif bagi masyarakat.
• Solusi: BRIN dan Intani berkolaborasi mengembangkan teknologi aquaponik modern berbasis bakteri indigenous untuk sistem pertanian terintegrasi (integrated farming).
• Data: Teknologi ini merupakan hasil riset selama dua tahun yang dirancang khusus untuk skala rumah tangga dan UMKM.
(Kitani.id): Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) resmi menggandeng Perkumpulan Insan Tani dan Nelayan Indonesia (Intani) untuk memasyarakatkan teknologi aquaponik modern.
Inovasi ini menggunakan basis bakteri indigenous yang dirancang khusus untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga, terutama di wilayah perkotaan.
Sinergi tersebut dikukuhkan melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) di Kawasan Sains dan Teknologi Soekarno. Melalui kolaborasi ini, hasil riset diharapkan tidak hanya berhenti di laboratorium, namun memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat luas.
Teknologi Hemat Lahan untuk UMKM
Ketua Umum Intani, Guntur Subagja, menjelaskan bahwa sistem aquaponik ini merupakan model integrated farming yang sangat efisien. Teknologi tersebut mengintegrasikan budidaya ikan air tawar dengan tanaman sayuran dalam satu sirkulasi yang saling menguntungkan.
“Teknologi aquaponik ini memiliki skala usaha rumah tangga maupun UMKM. Sangat cocok untuk urban farming karena memang tidak membutuhkan lahan yang luas,” ujar Guntur, Kamis (19 Maret 2026).
Senada dengan hal itu, Kepala PRBAT BRIN, Fahrurrozi, menegaskan bahwa kerja sama lanjutan ini bertujuan agar setiap luaran riset BRIN memiliki manfaat nyata. Langkah ini menjadi bagian dari upaya mendukung kemandirian pangan berbasis komunitas.
Keunggulan Bakteri Indigenous
Rahasia utama dari efektivitas sistem ini terletak pada penggunaan bakteri lokal atau indigenous. Teknologi yang telah diteliti selama dua tahun oleh tim ahli ini berfungsi menjaga keseimbangan ekosistem antara ikan dan tanaman.
Ketua Tim Pengembangan Teknologi PRBAT BRIN, Bambang Widyo Prastowo, memaparkan bahwa unsur mikrobakteri tersebut menjadi nyawa dalam sistem budidaya ini. Bakteri inilah yang mengolah limbah ikan menjadi nutrisi organik bagi tanaman sayuran.
“Bakteri inilah yang menjadi unsur penting dalam budidaya integrasi ikan air tawar dengan sayuran dalam teknologi aquaponik modern ini,” pungkas Bambang.(*)








