(Kitani.id): Ketekunan menjadi kunci bagi Imam Khanafi, sosok petani tangguh dari Kelurahan Banjarsari, Kota Metro. Pria kelahiran 1968 ini bukan orang baru di dunia persawahan. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan lumpur sawah demi membantu orang tuanya.
Pengalaman lebih dari 30 tahun menempa dirinya menjadi petani yang tidak hanya ulet, tetapi juga inovatif dalam melihat peluang.
Sebagai Ketua Kelompok Tani Metro Sejahtera Abadi, Khanafi membuktikan bahwa pendidikan tinggi bukan satu-satunya penentu kesuksesan. Meskipun hanya lulusan SMA, ia mampu bersaing dan sukses menyekolahkan kedua anaknya hingga ke jenjang pendidikan tinggi dari hasil keringat di sawah seluas 2 hektar.
Inovasi Padi Hibrida dan Mekanisasi Modern

Langkah maju diambil Khanafi dengan beralih ke Varietas Unggul Baru (VUB). Bersama anggota kelompok tani lainnya, ia memilih menanam padi hibrida varietas MAPAN P-05. Agar hasilnya maksimal, ia juga konsisten menerapkan teknologi tanam jajar-legowo 3-1.
“Penerapan teknologi dan varietas yang tepat sangat membantu kami mengejar potensi hasil panen yang lebih tinggi,” ungkapnya saat berdiskusi dengan sesama petani, Minggu (5 April 2026).
Kemudahan akses permodalan dari pemerintah juga dimanfaatkannya dengan baik untuk membangun usaha jasa alat mesin pertanian (Alsintan). Kini, Khanafi telah memiliki unit Rotary Tr-4 dan Combine Harvester.
Keberadaan mesin ini menjadi solusi jitu bagi petani di Banjarsari untuk mempercepat masa tanam dan panen agar sesuai target musiman.
Beras Daun Salam, Produk Unggulan Banjarsari
Sektor pasca-panen tak luput dari sentuhan bisnisnya. Khanafi mengelola penggilingan padi dengan kapasitas operasional 1 ton per hari. Dari sini, lahir beras kemasan dengan merek “Daun Salam” yang kini mulai naik daun di pasar Kota Metro.
Setiap bulannya, sekitar 6 ton beras dihasilkan dan diserap pasar dengan cepat. Bahkan, tingginya permintaan konsumen seringkali membuat stok beras kemasannya habis tak tersisa. Berdasarkan analisis usaha, total pendapatan dari seluruh lini bisnis tani yang dikelolanya mencapai Rp201,3 juta per tahun.
Sosok yang aktif berkomunikasi dengan penyuluh ini berharap, langkahnya bisa memicu semangat petani lain di Lampung. Baginya, kolaborasi dan penggunaan teknologi adalah harga mati untuk mewujudkan pertanian yang lebih maju, mandiri, dan modern.(*)

(Penulis: Bayu Ega Firmansyah, S.P.
Penyuluh Pertanian – Ahli Pertama sejak 02 Agustus 2022. Wilayah Binaan di Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Metro Utara, Kota Metro.)








