Tumbal Angka di Tanah Surplus

Senin, 6 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(Kitani.id): Dalam narasi besar transformasi PTPN I, Regional 7 kini memikul predikat yang membanggakan sekaligus menyakitkan, ia adalah tanah surplus.

Namun, jika kita melihat lebih dalam ke balik laporan arus kas per Maret 2026, kita akan menemukan sebuah realitas yang getir. Di balik angka-angka hijau yang gemilang, terdapat ribuan karyawan yang kini merasa menjadi tak lebih dari sekadar “tumbal angka” demi menjaga napas korporasi yang sedang sekarat.

Regional 7 saat ini berdiri sebagai anomali yang heroik. Di tengah kepungan warna merah yang mendominasi peta finansial perusahaan—di mana Regional 2 membukukan defisit Rp118 Miliar dan Regional 3 tertatih dengan kerugian Rp76 Miliar—Regional 7 justru mencetak surplus Rp61 Miliar.

Wilayah ini secara mandiri mampu mengonversi keringat di lapangan menjadi arus kas masuk sebesar Rp461 Miliar. Secara matematis, tanpa kontribusi ini, PTPN I akan tenggelam dalam lubang defisit yang melampaui Rp220 Miliar.

Baca Juga  Layanan Akurat, Kementan Perkuat Mutu Laboratorium Balai Veteriner Lampung

Namun, di sinilah letak tragedinya. Prestasi luar biasa ini seolah tidak memiliki nilai tawar di hadapan kebijakan pusat yang kaku. Atas nama “nasib kolektif”, kesejahteraan dan hak-hak karyawan di wilayah surplus disamaratakan dengan mereka yang berada di wilayah defisit.

Karyawan Regional 7 dipaksa bekerja dengan standar tinggi dan target ambisius, namun saat hasil diraih, “buah” dari kerja keras tersebut dibawa pergi untuk menambal kebocoran di tempat lain tanpa meninggalkan nutrisi yang cukup bagi si penanamnya.

Kondisi ini diperparah oleh tumpulnya peran serikat pekerja. Sebagai organisasi yang secara filosofis menjadi tameng bagi kepentingan anggota, serikat justru tampak lebih menikmati peran sebagai “pemandu sorak” kebijakan manajemen.

Baca Juga  “Enaknya” Diapakan SPPG Makan Bergizi Gratis ini?

Ada keheningan yang memekakkan telinga dari meja-meja perundingan. Tidak ada gugatan atas distribusi surplus yang tidak adil, tidak ada pembelaan bagi mereka yang sudah diperas tenaganya namun diabaikan haknya. Ketika pemimpin serikat lebih memilih menjaga keharmonisan personal dengan elite ketimbang menyuarakan jeritan akar rumput, maka serikat bukan lagi pelindung, melainkan sekadar stempel legitimasi bagi eksploitasi.

Menjadikan Regional 7 sebagai tumbal untuk mensubsidi kegagalan wilayah lain adalah sebuah kesalahan manajerial yang fatal. Kebijakan ini tidak hanya mencederai rasa keadilan, tetapi juga membunuh motivasi.

Mengapa harus berprestasi jika pada akhirnya nasib sang pemenang disamakan dengan sang beban? Ini adalah bentuk hukuman bagi mereka yang sehat, dan pembiaran bagi mereka yang gagal.

Baca Juga  Program Desaku Maju Perkuat Sektor Pertanian di Pesawaran

Keberlanjutan sebuah industri perkebunan tidak terletak pada mesin atau luas lahan, melainkan pada loyalitas manusia yang mengelolanya. Jika manajemen terus membiarkan Regional 7 menjadi tumbal bagi inefisiensi korporasi, maka loyalitas itu akan segera mencapai titik jenuh.

PTPN I harus berhenti melihat surplus hanya sebagai angka statistik untuk menyeimbangkan buku laporan. Surplus itu punya wajah; ia adalah wajah karyawan yang lelah, wajah buruh yang berharap kesejahteraannya membaik seiring membaiknya kinerja perusahaan. Tanpa adanya penghargaan yang nyata atas prestasi, maka kejayaan di tanah surplus ini hanyalah fajar palsu yang sebentar lagi akan tenggelam dalam kegelapan rasa kecewa.(*)

(Penulis: Andi Firmansyah/ Pemerhati Kebijakan Korporasi)

(Penulis: Andi Firmansyah/
Pemerhati Kebijakan Korporasi)

Berita Terkait

Resonansi Cashflow PTPN I pada Ekonomi Kawasan, Cerita dari Warung Sate
“Enaknya” Diapakan SPPG Makan Bergizi Gratis ini?
Solusi Ekonomi Desa, KDMP dan BUMDes Kelola MBG
Menikmati Kopi Liwa dan Tanggamus di Cafe, Sambil Bertanya: Sudahkah Petani Ikut Sejahtera?
Lada, Antara Nostalgia dan Produksi Yang Tidak Berdaya
Gubernur Mirza, Ada PPL Berjibaku Nun Jauh di Sana
Konflik Global Mengancam, Petani Jagung Lampung Hadapi Risiko Kelangkaan Pupuk
Cegah Krisis Pangan di Lampung, Petani Harus Mulai Mandiri Pupuk Organik

Berita Terkait

Rabu, 8 April 2026 - 17:24 WIB

Resonansi Cashflow PTPN I pada Ekonomi Kawasan, Cerita dari Warung Sate

Senin, 6 April 2026 - 17:04 WIB

Tumbal Angka di Tanah Surplus

Senin, 6 April 2026 - 15:05 WIB

“Enaknya” Diapakan SPPG Makan Bergizi Gratis ini?

Jumat, 3 April 2026 - 13:28 WIB

Solusi Ekonomi Desa, KDMP dan BUMDes Kelola MBG

Kamis, 26 Maret 2026 - 19:55 WIB

Menikmati Kopi Liwa dan Tanggamus di Cafe, Sambil Bertanya: Sudahkah Petani Ikut Sejahtera?

Berita Terbaru

Ancaman kekeringan ekstrem akibat fenomena El Nino diprediksi melanda Lampung pada Mei hingga September 2026.(ilustrasi: Kitani.id)

Dinamika

Mitigasi El Nino Lampung Jaga Stabilitas Pangan Nasional

Jumat, 10 Apr 2026 - 23:32 WIB

Produk perikanan Indonesia sulit bersaing global karena isu transparansi dan legalitas rantai pasok.(Foto: ist)

Perikanan

Stelina Perkuat Daya Saing Produk Perikanan Indonesia

Jumat, 10 Apr 2026 - 18:51 WIB