inti berita:
• Masalah: Hilirisasi produk pertanian belum optimal dan kendala akses sarana dasar seperti kesehatan dan pendidikan.
• Solusi: Integrasi program lintas sektoral melalui penyediaan sumur bor, fasilitas kesehatan, dan bantuan alat pengolah hasil tani.
• Data: Lampung memiliki 699 desa berkembang (29%), 1.186 desa maju (48%), dan 561 desa mandiri (23%) tanpa desa tertinggal.
(Kitani.id): Program Desaku Maju Provinsi Lampung yang digagas Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menunjukkan hasil signifikan. Kemajuan status desa saat ini menjadi fondasi kuat bagi pelaksanaan strategi pembangunan desa secara terintegrasi di Bumi Ruwa Jurai.
Kepala Dinas PMDT Lampung, Saipul, mengungkapkan bahwa dari total 2.446 desa, kini tidak ada lagi desa yang berstatus tertinggal. Capaian ini merupakan hasil penilaian Indeks Desa Membangun (IDM) tahun 2024. Penentuan status desa ini menggunakan ratusan variabel yang mencakup aspek infrastruktur, kesehatan, pendidikan, dan ekonomi.
“Pertama akses infrastruktur, kedua akses kesehatan, ketiga pendidikan, dan keempat akses ekonomi,” jelas Saipul. Menurutnya, ketersediaan fasilitas seperti Puskesmas Pembantu (Pustu) sangat efektif mendekatkan layanan kesehatan bagi masyarakat. Saat ini, Lampung Barat memimpin dengan 52 persen desa mandiri, disusul Lampung Tengah dan Lampung Timur masing-masing 31 persen.
Optimalisasi Sektor Pertanian
Program Desaku Maju Provinsi Lampung juga hadir menjawab persoalan konkret seperti ketersediaan air sawah. Saipul menegaskan bahwa pembangunan irigasi dan sumur bor menjadi solusi paling cepat saat musim kemarau. “Sumur bor menjadi solusi paling cepat. Saat musim kemarau, petani tetap dapat mengairi sawahnya,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bappeda Lampung, Anang Risgiyanto, menyebut hilirisasi sebagai kunci peningkatan kesejahteraan masyarakat desa. Saat ini, kontribusi riil sektor pertanian baru mencapai 6 persen dengan rata-rata pendapatan warga Rp51 juta per tahun. “Ternyata ada salah tata kelola, salah satunya karena hilirisasi belum berjalan optimal,” ungkap Anang.
Pemerintah kini fokus memperkuat ekonomi desa melalui penyaluran mesin pengering (dryer) dan penguatan Rice Milling Unit (RMU). Sebanyak 24 unit dryer telah disalurkan, dengan target total mencapai 100 unit pada tahun 2026. Dengan alat ini, gabah seharga Rp6.000 bisa diolah menjadi beras seharga Rp15.000 per kilogram. Langkah nyata ini diharapkan mampu menjadikan desa sebagai pusat ekonomi yang mandiri dan berdaya saing.(*)








