(Kitani.id): Pembangunan di tingkat desa seringkali terhambat oleh lambatnya adaptasi teknologi dan rendahnya nilai jual produk mentah petani. Kondisi ini membuat kemandirian ekonomi desa di Lampung masih memerlukan akselerasi nyata agar tidak tertinggal oleh target pembangunan nasional.
Berdasarkan data evaluasi terbaru, tantangan utama terletak pada distribusi alat pendukung dan efektivitas input pertanian di lapangan.
Pemerintah Provinsi Lampung mencatat perlunya perluasan fasilitas secara masif, mengingat target tahun 2026 mencakup pembangunan bed dryer di 82 lokasi serta penyebaran Pupuk Organik Cair (POC) hingga ke 800 titik.
Upaya ini menjadi sangat krusial bagi para petani dan penggerak desa karena fokus utama program kini bergeser pada hilirisasi. Dengan adanya alat pengering dan pupuk berkualitas, komoditas lokal tidak lagi dijual murah dalam bentuk mentah, melainkan memiliki nilai tambah yang langsung berdampak pada isi kantong masyarakat desa.
Target Hilirisasi Desa
Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, menegaskan bahwa evaluasi program prioritas Desaku Maju dilakukan untuk memastikan seluruh agenda tetap berada pada jalur yang benar.
Menurutnya, capaian pada tahun sebelumnya menunjukkan hasil yang memuaskan, terutama pada sektor produktivitas lahan. “Hari ini kita lakukan evaluasi program prioritas Desaku Maju untuk memastikan program tersebut masih on track. Alhamdulillah di beberapa bidang, termasuk POC, bed dryer, hingga pelatihan vokasi, masih sesuai dengan visi yang kita harapkan,” ujar Jihan saat memimpin rapat di Ruang Sakai Sambayan, Selasa (7 April 2026).
Jihan menambahkan bahwa penggunaan POC dan fasilitas pengering (bed dryer) terbukti mampu meningkatkan efisiensi kerja petani. Tantangan teknis yang sempat muncul pada 2025 diklaim telah terselesaikan, sehingga tahun 2026 menjadi momentum untuk ekspansi skala besar.
Perluasan ke Sektor Perikanan
Selain menggenjot sektor pertanian, pemerintah juga memberikan perhatian pada pengembangan sumber daya manusia melalui pelatihan vokasi bagi 500 peserta. Program ini dirancang agar masyarakat desa memiliki keahlian yang relevan dengan kebutuhan industri saat ini.
Meskipun saat ini fokus utama masih pada komoditas padi, jagung, dan singkong, Jihan memberikan sinyal positif bagi warga di wilayah pesisir. Pemerintah berencana mengintegrasikan pola bantuan serupa untuk sektor perikanan pada masa mendatang.
“Tujuannya peningkatan kemandirian desa, ekonomi desa, dan terjadinya nilai tambah dari hilirisasi yang ada di desa-desa di seluruh Provinsi Lampung,” tambahnya.
Langkah ini dipastikan akan terus berlanjut hingga akhir masa periode kepemimpinan Gubernur Lampung guna menjaga keberlanjutan ekonomi pedesaan.(*)








