Betapa Tangguhnya Penyuluh Pertanian di Lampung

Kamis, 2 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Maria Jojor Rotua Nainggolan, Ketua Kelompok Substansi (Kelsi) dan Penyuluh Provinsi saat menerima kunjungan awak redaksi Kitani.id. (Foto: Kitani.id)

Maria Jojor Rotua Nainggolan, Ketua Kelompok Substansi (Kelsi) dan Penyuluh Provinsi saat menerima kunjungan awak redaksi Kitani.id. (Foto: Kitani.id)

(Kitani.id): Ada tugas strategis disampirkan negara pada pundak Penyuluh Pertanian Lapangan. Mereka ditugaskan harus mampu “mengembangkan senyum” para petani, pemerintah pusat dan daerah. Sebab, senyum puas itu berarti panen berhasil dan swasembada pangan tercapai. Sebesar itukah peran PPL bagi pertanian?

Tanpa mengecilkan peran petani dan pihak terkait lainnya, keberadaan PPL memang nyaris tak terpisahkan dari dunia pertanian itu sendiri. Mereka ibarat sahabat bagi petani. Sesuai tupoksinya PPL memang mesti mendampingi petani.

Bahkan bukan sekadar membersamai. Lebih dari itu para penyuluh memiliki tanggung jawab moril dan tuntutan profesionalisme untuk dapat memastikan peningkatan produktivitas usahatani.

PPL juga diminta untuk punya kontribusi dalam upaya meningkatkan kesejahteraan petani. Bila petani dihadang kendala, PPL ikut merasa wajib mencarikan solusi. Kurang mulia apa peran “kawan” yang satu ini?

Benar, untuk dapat mewujudkan semua itu bukan perkara mudah. PPL mesti membekali petani binaan melalui pola edukasi berkala. Tapi jangan bayangkan proses pembelajarannya berlangsung di dalam ruangan berpendingin. Kalau sampai punya anggapan demikian, jelas keliru.

Watak fasilitator yang melekat pada benak PPL mendorong mereka untuk tak berhenti melayani. Spirit tak sungkan menyingsingkan lengan baju itu yang membawa PPL menyambangi satu persatu petani anggota binaan. Dimana pun usahatani itu berada.

Sudahlah lelah menempuh perjalanan yang tak jarang jauh, tidak sedikit pula yang mesti melewati medan kurang kompromis, dan setiba di tujuan masih juga mesti mengedukasi.

Sudah sampai di situ saja pengabdiannya? Kiranya, ini baru separuh perjalanan PPL dalam menunaikan tugas. Lantaran masih ada sederet kewajiban lain yang harus ditunaikan.

Koordinasi dan Informasi adalah Kunci

Beberapa ibu berseragam kemeja putih berkumpul dalam sebuah ruang. Jarak mereka saling berdekatan. Tapi tidak saling bertukar percakapan. Wajah mereka khusyuk memandangi monitor laptop di hadapan masing-masing. Sesekali di antara mereka ada yang angkat bicara. Bicara di hadapan monitor laptop.

Baca Juga  Mengenal Jenis Sistem Cage Free, Solusi Peternakan Ayam Modern yang Sejahtera

“Kawan-kawan lagi pada zoom-ing, saya juga barusan kelar nge-zoom,” kata Maria Jojor Rotua Nainggolan, Ketua Kelompok Substansi (Kelsi) Provinsi Lampung, saat menerima Kitani.id di komplek Kebun Percobaan (KP) Natar, Rabu (1 April 2026).

Aktivitas serupa ini, ungkap alumnus Fakultas Pertanian Unila itu, sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Zoom dilakukan baik bersama Kementerian Pertanian (Kementan) juga kepada Ketua-ketua Tim Kerja (Katimker) kabupaten/kota, serta para PPL di berbagai lokasi.

“Koordinasi dan pembinaan memang berlangsung secara rutin,” imbuh Maria, sapaan akrabnya.

Maria Jojor Rotua Nainggolan, Ketua Kelompok Substansi (Kelsi) Provinsi Lampung
Maria Jojor Rotua Nainggolan, Ketua Kelompok Substansi (Kelsi) Provinsi Lampung. (Foto: Kitani.id)

Lebih lanjut dia menjelaskan, sebelumnya penyuluh pertanian berada di bawah Dinas Pertanian Provinsi Lampung. Setelah diterbitkan Inpres Nomor 3 Tahun 2025, sejak 1 Januari 2026, status mereka beralih sebagai pegawai Kementan. Tujuannya untuk membangun sistem penyuluhan satu komando yang terintegrasi dan selaras dengan kebijakan pembangunan pertanian nasional.

Dengan demikian secara otomatis para penyuluh tidak lagi berkantor di Dinas Pertanian. “Kami sekarang berkantor di BRMP atau Balai Penerapan Modernisasi Pertanian. Tapi karena keterbatasan ruang, kebijakan pimpinan membagi dua tempat kerja. Hanya tiga orang, termasuk saya, yang berada di BRMP. 12 penyuluh selebihnya berkantor di KP Natar ini,” urai Maria, seraya menambahkan, pembagian tempat kerja tanpa mengurangi koordinasi pelaksaan tugas.

Kelima belas penyuluh provinsi ini mesti mengawal pelaksanaan tugas pada masing-masing kabupaten/kota. Maria, misalnya, selain bertindak sebagai Ketua Kelsi juga merangkap bertanggung jawab terhadap wilayah kerja di Lampung Selatan. Mereka berkoordinasi dengan Ketua Tim Kerja (Katimker) wilayah setempat.

Baca Juga  Serangga Bermanfaat, Sahabat Petani Pengusir Hama Alami

Para penyuluh provinsi juga dituntut sigap mengejawantahkan penugasan dari berbagai Dirjen Kementan. Satu contoh, para PPL mesti mulai “menggauli” dunia media sosial (medsos).

Untuk urusan yang satu ini Maria mengutip arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang pernah bilang, “Sudah saatnya penyuluh mulai mengaktualisasikan diri melalui medsos. Jangan hanya selalu bekerja. Tapi masyarakat juga perlu diberi tahu peran PPL dalam pencapaian pembangunan pertanian”.

“Sejak itu semua PPL aktif menggiatkan penderasan informasi seputar kinerja di akun medsos pribadi,” jelas Maria. Tak tanggung-tanggung akun medsos yang digarap bukan satu. Melainkan empat sekaligus. Mulai dari TikTok, Facebook, Instagram hingga YouTube.  “Masing-masing akun minimal harus punya seribu followers,” imbuhnya.

PPL di Lampung, sambung Maria, juga mengemban tugas untuk melakukan pendataan statistik yang terkait dengan pertanian secara luas. Cakupannya meliputi tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan.

Pendampingan Brigade Pangan

Seabrek aktivitas PPL tadi akan makin tergambar bila mencermati wilayah binaan (wilbin). Sebagai deskripsi, saat ini terdapat 1.280 PPL tersebar pada 15 kabupaten/kota di Lampung. Idealnya, satu PPL mendampingi 1 desa sebagai wilbin.

Namun, saat ini Lampung memiliki tak kurang dari 2.600-an desa. Itu berarti ada PPL yang meng-cover lebih dari satu desa wilbin. Bahkan ada yang hingga 3 desa sekaligus. Sementara 1 desa maksimal memiliki 20 kelompok tani. Dan satu kelompok tani berisikan 15 hingga 25 petani, termasuk pekebun dan peternak.

Menurut Maria, dari sekian banyak kelompok tani yang dibina, terdapat 141 Brigade Pangan yang masing-masing kelompok berisikan 15 petani muda (milenial). Tiap kelompok menggarap 200 hektare yang lokasinya tersebar pada 4 kabupaten mencakup Lampung Tengah, Lampung Timur, Mesuji dan Tuba.

Baca Juga  Panjat Kelapa tak Perlu Monyet Lagi, Kementan Jajaki Teknologi Modern

“Pada 2025 lalu aktivitas difokuskan pada area rawa. Sedangkan selanjutnya fokus diperluas ke area non rawa seperti Lampung Selatan, Tulangbawang Barat dan Lampung Utara,” urai Maria, sambil menyebutkan, masing-masing kelompok Brigade Pangan memperoleh bantuan Alsintan atau alat dan mesin pertanian senilai Rp3 miliar dari Kementan.

Menengok luasan cakupan wilayah kerja serta pentingnya koordinasi dengan satuan PPL pada 15 kabupaten/kota, menjadi keniscayaan bagi penyuluh untuk rajin turun ke daerah-daerah.

“Iya, dong. Itu sebenarnya menjadi rutinitas kami untuk berkoordinasi dengan rekan-rekan PPL di lapangan. Tapi kebutuhan itu kita sesuaikan,” kata Maria. Saat ditanya berapa armada yang tersedia untuk mendukung kinerja turun ke kabupaten/kota, Maria tak menjawab secara eksplisit.

“Untuk kebutuhan mendesak, kami kerap secara mandiri untuk turun ke lapangan. Semua masih bisa kita tangani, kok. Itu makanya untuk menjaga koordinasi tetap terus belangsung, kita aktifkan zoom meeting seperti yang Mas lihat tadi,” ungkapnya.

Demikian pula saat ditanyakan jumlah aset laptop yang dapat dipergunakan untuk menunjang kinerja para penyuluh, Maria menjelaskan bahwa laptop yang dipergunakan para penyuluh provinsi adalah milik pribadi.

“Semua keterbatasan itu menjadi tak terasa, Mas. Saat tahu Lampung berhasil swasembada. Kami ikut senang. Setidaknya kami ikut berkontribusi dalam pencapaian itu,” ucap Maria, seraya mengembangkan senyum. (*)

Berita Terkait

Kamis, 2 April 2026 - 08:04 WIB

Betapa Tangguhnya Penyuluh Pertanian di Lampung

Berita Terbaru

Ancaman kekeringan ekstrem akibat fenomena El Nino diprediksi melanda Lampung pada Mei hingga September 2026.(ilustrasi: Kitani.id)

Dinamika

Mitigasi El Nino Lampung Jaga Stabilitas Pangan Nasional

Jumat, 10 Apr 2026 - 23:32 WIB

Produk perikanan Indonesia sulit bersaing global karena isu transparansi dan legalitas rantai pasok.(Foto: ist)

Perikanan

Stelina Perkuat Daya Saing Produk Perikanan Indonesia

Jumat, 10 Apr 2026 - 18:51 WIB