Menikmati Kopi Liwa dan Tanggamus di Cafe, Sambil Bertanya: Sudahkah Petani Ikut Sejahtera?

Kamis, 26 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nasib petani kopi yang tak sejalan dengan kemewahan narasi penjual.(Foto: ist)

Nasib petani kopi yang tak sejalan dengan kemewahan narasi penjual.(Foto: ist)

Inti Artikel:

Masalah: Ketimpangan nilai ekonomi kopi antara harga segelas di kafe perkotaan dengan kesejahteraan petani di hulu.

Solusi: Membangun ekosistem yang menghubungkan kafe langsung ke petani serta penguatan narasi dan standardisasi pascaproduksi.

Data: Harga kopi di kafe Bandar Lampung mencapai Rp35.000 per cangkir, namun rantai distribusi panjang masih membebani petani.

(Kitani.id): Secangkir kopi di kafe bisa bernilai puluhan ribu rupiah. Saya pernah mencicipi kopi asal tanggamus di salah satu cafe di Bandar Lampung dengan satu cangkir seharga 35 ribu.

Namun dari nilai itu, harus kita berpikir, berapa yang benar-benar kembali ke petani?

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika tren kafe di Bandar Lampung tumbuh begitu cepat. Hampir di setiap sudut kota, kafe hadir membawa konsep baru dan minimalis, industrial, hingga tematik.

Mereka berlomba menawarkan kopi lokal sebagai daya tarik utama. Nama Liwa dan Tanggamus menjadi “jualan”, menjadi identitas yang dipajang di papan menu.

Di Provinsi Lampung, kopi bukan sekadar komoditas. Ia adalah denyut kehidupan. Di lereng-lereng perbukitan Lampung Barat dan hamparan kebun di Tanggamus, kopi tumbuh bersama harapan. Ia dirawat dalam diam, dipanen dengan sabar, dan dijaga kualitasnya dengan cara-cara yang diwariskan lintas generasi.

Baca Juga  Gubernur Mirza Kasih Jalan untuk Anak Muda Lampung Jadi Petani Modern

Ya, nama “Kopi Liwa” dan “Kopi Tanggamus” tidak lagi hanya milik petani, ia telah menjadi bagian dari menu, dari branding, dari gaya hidup urban kaum anak muda kota besar.

Kita patut bangga bahwa kopi dari tanah Lampung kini punya tempat di ruang-ruang modern. Bahwa apa yang dulu hanya dinikmati di beranda rumah, kini menjadi simbol kelas anak muda yang sering kongkow di cafe.

Tetapi, di balik kebanggaan itu, tersimpan kegelisahan yang tidak sederhana. Sebab realitasnya, perjalanan kopi dari kebun ke kafe tidak selalu berjalan adil. Petani tetap berada di titik paling awal dan seringkali, paling lemah.

Mereka menjual dalam bentuk bahan mentah, dengan harga yang ditentukan oleh pasar yang tidak sepenuhnya mereka kuasai. Sementara di hilir, kopi mengalami “lonjakan nilai” yang signifikan.

Ia tidak lagi dijual sebagai biji, tetapi sebagai pengalaman, dengan cerita, dengan estetika, dengan suasana.

Namun sayangnya, tidak semua kafe benar-benar terhubung dengan sumbernya. Ada yang sekadar menggunakan nama tanpa membangun relasi. Ada yang membeli dari rantai distribusi panjang tanpa tahu siapa petaninya.

Baca Juga  Menteri Koperasi Atur Ketat Ritel Modern Alfamart dan Indomaret Masuk Desa

Bahkan ada yang menjual “cerita lokal” tanpa pernah benar-benar kembali ke kampung tempat kopi itu berasal.

Petani Kopi Memetik Legenda, Penjual Petik Cuan

Di sinilah kita melihat paradoks: kopi Lampung semakin dikenal, tetapi petaninya belum tentu semakin sejahtera. Padahal, potensi untuk memperbaiki keadaan itu sangat besar.

Bayangkan jika setiap kafe di Lampung tidak hanya menjual kopi, tetapi juga membawa narasi yang utuh. Menyebut nama petani atau kelompok tani, menjelaskan proses pascapanen, bahkan membuka akses langsung antara konsumen dan produsen.

Maka kopi tidak hanya menjadi minuman, tetapi juga jembatan sosial yang menghubungkan kota dan kampung.

Lebih dari itu, Lampung sebenarnya memiliki peluang besar untuk melangkah lebih jauh. Kopi Liwa dan Tanggamus bukan sekadar produk lokal—keduanya memiliki karakter rasa yang kuat, yang bisa bersaing di pasar nasional bahkan global.

Tetapi untuk sampai ke sana, kualitas harus dijaga secara konsisten. Standarisasi, inovasi pascapanen, dan penguatan branding menjadi kunci.

Dan di titik ini, peran generasi muda menjadi penting.

Kita mulai melihat munculnya anak-anak muda Lampung yang terjun ke dunia kopi, menjadi barista, roaster, bahkan membuka usaha kafe sendiri. Ini adalah tanda baik.

Baca Juga  Konflik Global Mengancam, Petani Jagung Lampung Hadapi Risiko Kelangkaan Pupuk

Namun tantangannya adalah bagaimana mereka tidak hanya menjadi bagian dari hilir, tetapi juga memahami hulu. Sebab masa depan kopi Lampung tidak bisa dibangun hanya dari estetika kafe, tetapi dari kekuatan ekosistem.

Petani yang berdaya, koperasi yang kuat, distribusi yang adil, hingga kafe yang sadar akan tanggung jawab sosialnya—semua harus terhubung dalam satu mata rantai yang sehat.

Jika tidak, maka kita hanya akan terus mengulang pola lama yakni kampung sebagai penghasil, kota sebagai penikmat utama.

Pada akhirnya, kopi Lampung adalah tentang identitas. Ia adalah cerita tentang tanah, tentang kerja keras, tentang kesabaran yang panjang.

Namun identitas itu tidak boleh berhenti sebagai “jualan”. Ia harus menjadi jalan menuju kesejahteraan. Sebab tidak ada makna dalam secangkir kopi yang mahal, jika di ujung kebun sana, petaninya masih bertahan dalam ketidakpastian.

Dan mungkin, di setiap tegukan kopi Liwa dan Tanggamus yang kita nikmati hari ini, ada satu pertanyaan yang seharusnya tidak kita abaikan:

Apakah kopi ini hanya menghangatkan tubuh, atau juga sudah menghangatkan kehidupan mereka yang menanamnya?(*)

Penulis: Herwanda Pratama (Jurnalis)
Penulis: Herwanda Pratama (Jurnalis)

Berita Terkait

Lada, Antara Nostalgia dan Produksi Yang Tidak Berdaya
Gubernur Mirza, Ada PPL Berjibaku Nun Jauh di Sana
Konflik Global Mengancam, Petani Jagung Lampung Hadapi Risiko Kelangkaan Pupuk
Cegah Krisis Pangan di Lampung, Petani Harus Mulai Mandiri Pupuk Organik
Bagaimana Negara-negara Berkembang dapat Kumpulkan Dana untuk Atasi Krisis Iklim?
(Mestinya) Di Tangan Gubernur Mirza Pertanian Lampung Tak Habis Manis Sepah Dibuang
Gubernur Mirza Buka Rahasia, Sebagai Pelayan Mesti Punya Cinta dan Cita-cita
Gubernur Mirza Kasih Jalan untuk Anak Muda Lampung Jadi Petani Modern

Berita Terkait

Kamis, 26 Maret 2026 - 19:55 WIB

Menikmati Kopi Liwa dan Tanggamus di Cafe, Sambil Bertanya: Sudahkah Petani Ikut Sejahtera?

Kamis, 26 Maret 2026 - 10:33 WIB

Lada, Antara Nostalgia dan Produksi Yang Tidak Berdaya

Kamis, 26 Maret 2026 - 08:17 WIB

Gubernur Mirza, Ada PPL Berjibaku Nun Jauh di Sana

Rabu, 25 Maret 2026 - 19:35 WIB

Konflik Global Mengancam, Petani Jagung Lampung Hadapi Risiko Kelangkaan Pupuk

Senin, 23 Maret 2026 - 16:32 WIB

Cegah Krisis Pangan di Lampung, Petani Harus Mulai Mandiri Pupuk Organik

Berita Terbaru