(Kitani.id): Tren peternakan ayam kini mulai beralih pada pemenuhan aspek kesejahteraan hewan. Pengawas Bibit Ternak Muda Direktorat Jenderal PKH Kementan, Novia Dimar Dwitarizki, menjelaskan terdapat tiga metode utama dalam pengelolaan peternakan tanpa sekat. Pilihan ini dapat disesuaikan dengan kondisi lahan dan tujuan usaha para peternak.
Metode pertama adalah sistem barn, yakni ayam dibiarkan berkeliaran di dalam ruangan satu tingkat. Kedua, sistem aviary atau multilevel yang menggunakan kandang bertingkat untuk memaksimalkan ruang vertikal, cocok bagi peternakan skala besar. Ketiga, sistem free range yang memberikan akses bagi ayam untuk bergerak di dalam maupun luar ruangan.
“Ketiga sistem ini pada dasarnya mendukung prinsip kesejahteraan hewan. Ayam bisa mengekspresikan perilaku alaminya,” ujar Novia, Jumat (27 Maret 2026).
Perbedaan Struktur dan Kebebasan Gerak
Perbedaan paling mencolok antara metode ini dengan kandang baterai konvensional terletak pada kepadatan hunian. Pada kandang baterai, satu meter persegi lahan bisa dipaksakan untuk 19 ekor ayam. Sementara pada sistem cage free, kepadatan dibatasi hanya 7 hingga 9 ekor agar ayam memiliki ruang gerak yang leluasa.
Kondisi ini sangat memengaruhi perilaku ayam di dalam kandang. Pada model konvensional, ayam cenderung hanya bisa berdiri, duduk, dan bertelur karena keterbatasan ruang. Sebaliknya, pada lingkungan yang lebih bebas, ayam dapat bertengger, mandi debu, hingga bersosialisasi dengan sesama kelompoknya.
“Ayam jadi lebih bebas bergerak. Kebebasan ini sangat penting untuk mendukung kesehatan dan kenyamanan hewan selama masa produksi,” jelasnya.
Tantangan Kebutuhan Energi dan Pakan
Meskipun memberikan ruang gerak lebih luas, peternak perlu memperhatikan aspek kebutuhan nutrisi. Ayam yang aktif bergerak memerlukan energi lebih besar dibandingkan ayam yang hanya diam di dalam sekat sempit. Aktivitas terbang dan bertengger meningkatkan kebutuhan energi harian secara signifikan.
Data menunjukkan bahwa kebutuhan pakan pada sistem cage free biasanya 7 hingga 12 persen lebih tinggi. Hal ini dikarenakan energi yang dikeluarkan untuk aktivitas fisik jauh melampaui ayam di kandang baterai yang cenderung pasif. Namun, kualitas hidup hewan yang lebih baik menjadi nilai tambah tersendiri bagi keberlanjutan usaha.
Peternak disarankan untuk memilih sistem yang paling pas dengan kondisi iklim setempat dan ketersediaan sumber daya. Pemilihan yang tepat akan memastikan operasional peternakan tetap produktif sekaligus menjaga etika terhadap hewan ternak.(*)








