Inti Berita:
• Masalah: Perlunya regenerasi peneliti ahli untuk mengolah kekayaan hayati Indonesia menjadi solusi pangan.
• Solusi: Pelatihan biologi struktur biomolekul bagi talenta muda melalui program Degree by Research (DBR).
• Data: Diikuti 65 peserta (50 magister, 15 doktoral) sebagai tahap awal seleksi ketat di BRIN.
(Kitani.id): Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus bergerak memperkuat fondasi kedaulatan pangan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Melalui program khusus, BRIN menggembleng puluhan talenta muda untuk mendalami biologi struktur biomolekul. Upaya ini menjadi titik awal untuk melahirkan peneliti yang fokus pada inovasi di sektor pertanian dan pangan.
Kepala Pusat Riset Mikrobiologi Terapan BRIN, Ahmad Fathoni, menekankan pentingnya pembekalan teknis bagi calon peneliti. Kekayaan hayati Indonesia yang sangat melimpah membutuhkan sentuhan sains modern agar bisa bermanfaat luas bagi petani.
Pelatihan ini pun menjadi ajang penyamaan pemahaman sebelum para peserta terjun langsung ke laboratorium riset.
Mengolah Kekayaan Hayati Menjadi Solusi Pertanian
Bidang biologi struktur biomolekul memiliki potensi yang sangat luas untuk dikembangkan di tanah air. Dalam dunia tani, teknologi ini bisa digunakan untuk menciptakan varietas tanaman yang lebih unggul dan tahan hama.
Oleh karena itu, BRIN mendorong agar inovasi di sektor pertanian dan pangan berbasis keanekaragaman hayati lokal terus ditingkatkan.
Direktur Pengembangan Kompetensi BRIN, Rahma Lina, menjelaskan bahwa pelatihan ini bukan sekadar formalitas akademik. Peserta diuji keseriusannya dalam memahami ekosistem riset yang akan mereka hadapi nanti.
Fokusnya adalah memastikan bahwa riset yang dihasilkan benar-benar aplikatif dan mampu menjawab tantangan pemenuhan pangan nasional.
Mencetak Generasi Peneliti Berdaya Saing Global
Sebanyak 65 kandidat terpilih kini bersaing ketat untuk mendapatkan beasiswa riset di jenjang magister dan doktoral. Selain kemampuan teknis, aspek sosiokultural juga menjadi bahan pertimbangan penting dalam seleksi.
Hal ini dilakukan agar para peneliti muda tidak hanya cerdas secara teori, tetapi juga peka terhadap kebutuhan masyarakat.
Program ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi kolaborasi riset tingkat internasional di masa depan. Dengan mencetak peneliti yang kompeten, Indonesia berpeluang besar memimpin pasar pangan berbasis inovasi hayati. Sekaligus memastikan inovasi di sektor pertanian dan pangan menjadi motor penggerak ekonomi baru bagi bangsa.(*)








