Inti Berita
• Masalah: Kesenjangan antarwilayah dan perlunya penguatan ekonomi desa agar tidak sekadar bergantung pada bantuan.
• Solusi: Peluncuran program unggulan “Desaku Maju” yang fokus pada pemberdayaan ekonomi, infrastruktur, dan SDM lokal.
• Data/Biaya: Lampung memiliki 2.446 desa (pekon/tiyuh), terdiri dari 699 desa berkembang, 1.186 desa maju, dan 561 desa mandiri per data 2025.
(Kitani.id): Pemerintah Provinsi Lampung terus berkomitmen meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan dari pinggiran. Hal ini ditekankan dalam peringatan Hari Desa Nasional (HDN) 2026 di lingkungan Sekretariat Daerah Provinsi Lampung, Senin (19/1/2026).
Mewakili Gubernur Lampung, Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM, Lukman Pura, mengajak semua pihak memperkuat desa. Desa, atau yang akrab kita sebut pekon dan tiyuh, harus menjadi pilar utama kemajuan daerah.
“Momentum HDN tahun ini menjadi penyemangat untuk mewujudkan desa yang mandiri dan sejahtera,” kata Lukman, saat membacakan sambutan Gubernur Lampung.
Untuk mencapai visi Lampung Maju, pemerintah meluncurkan program unggulan bernama “Desaku Maju”. Program ini bukan sekadar bantuan sosial, melainkan strategi untuk mengurangi kesenjangan wilayah.
Fokusnya adalah mengubah pola pikir warga agar menjadi pelaku pembangunan yang kreatif. Lewat program ini, ekonomi desa akan diberdayakan melalui penguatan infrastruktur dasar dan peningkatan kualitas SDM.
Selain itu, produk unggulan desa akan mendapat wadah promosi dan pemasaran yang lebih luas. Harapannya, daya saing ekonomi desa di Lampung makin kuat di tingkat nasional.
Potensi 2.446 Desa di Lampung
Berdasarkan data kementerian tahun 2025, Provinsi Lampung kini memiliki 2.446 desa. Kabar baiknya, tren Indeks Desa Membangun (IDM) di Lampung terus menunjukkan grafik positif. Hal ini membuktikan bahwa pembangunan berbasis desa berjalan di jalur yang tepat.
Saat ini tercatat ada 699 desa berkembang yang fokus pada penguatan sektor pertanian dan perikanan. Sementara itu, 1.186 desa sudah masuk kategori maju dengan fasilitas layanan dasar yang memadai. Bahkan, sebanyak 561 desa telah menyandang status mandiri berkat inovasi teknologi dan partisipasi aktif warganya.
“Meski mengejar kemajuan teknologi, Pemprov Lampung tetap mengedepankan nilai budaya dan kearifan lokal. Berbagai acara berbasis ekonomi kreatif akan digelar untuk memperkuat jejaring usaha warga pekon. Ini penting agar kemandirian ekonomi tetap berpijak pada akar budaya Lampung,” jelas Lukman.
Dia menambahkan, pemerintah berharap seluruh elemen masyarakat saling bahu-membahu dalam membangun desa. Dengan semangat dedikasi yang tinggi, desa-desa di Lampung diharapkan menjadi penggerak utama ekonomi daerah. (*)








