Inti Artikel:
• Masalah: Ancaman krisis ekonomi global dan fenomena “Godzilla El Nino” yang berpotensi mengganggu produktivitas pertanian Lampung di sisa tahun 2026.
• Solusi: Penguatan koordinasi dan apresiasi langsung dari kepala daerah kepada PPL sebagai jembatan inovasi dan pendamping utama petani.
• Data: Produksi padi Lampung naik dari 2,7 juta ton menjadi 3 juta ton (2025), dengan target kenaikan 15-20% pada tahun ini.
(Kitani.id): Di tangan pemerintahan Gubernur Mirza, Lampung berhasil mendongkrak produksi padi 3 juta ton pada 2025. Dari sebelumnya 2,7 juta ton. Tahun ini produksi padi ditarget meningkat 15-20 persen. Lantas di mana letak kontribusi Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) pada pencapaian ini?
Mungkin jarang atau malah belum pernah, Gubernur Mirza rapat bersama seluruh PPL di Lampung di ruang berpendingin yang sejuk.
Kalau pun kiranya belum pernah, bukan berarti tidak akan pernah, toh. Tapi, memangnya sepenting apa, sampai-sampai Gubernur Mirza dianggap layak mempertimbangkan untuk “berakrab-akrab ria” dengan para PPL?
Terlebih semenjak 2026 ini, melalui Inpres No. 3 Tahun 2025 tentang Pendayagunaan Penyuluh Pertanian dalam Percepatan Swasembada Pangan, status kepegawaian PPL sudah ditarik ke pusat.
Bukankah itu berarti “Tongkat komando penyuluhan” kini beralih di Kementerian Pertanian RI bukan lagi di daerah?
Benar. Namun demikian, ruang lingkup kerja PPL tetap berada di Lampung. Termasuk anggota kelompok tani atau gabungan kelompok tani (gapoktan) yang setiap hari didampingi sekaligus dibina oleh PPL adalah petani, peternak dan pekebun yang notabene masyarakat Lampung.
Pun data-data pencapaian di sektor pertanian yang disampaikan Gubernur Mirza pada berbagai kesempatan, itu juga tidak terlepas dari kontribusi para PPL. Ada jejak upaya mereka pada rekam jejak pencapaian pertanian Lampung.
Kembali pada pertanyaan tadi, sepenting apa? Mestinya dijawab sangat penting. Karena kita di Lampung memang sangat berkepentingan dengan keberadaan dan kinerja para PPL.
PPL Menggendong Harapan Petani dan Pemerintah
Mungkin kita perlu mengetahui sekelumit peran yang dilakukan para PPL di pelosok desa. Sudah barang tentu tugas yang disandang mereka bukan sebatas bertemu dan omon-omon bareng petani.
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, pernah bilang PPL harus mampu senantiasa meningkatkan produktivitas. Mereka juga wajib meningkatkan indeks pertanaman (IP) juga meningkatkan luas tambah tanam atau LTT.
PPL juga mesti dapat menjadi “jembatan pengetahuan” antara inovasi pertanian dan praktik di lapangan. Dari tangan PPL juga informasi, teknologi, dan semangat swasembada pangan diterjemahkan menjadi aksi nyata di sawah, kebun, dan kandang-kandang peternak.
Semua peran tersebut masih harus ditambah dengan melakukan evaluasi program dan pengembangan metode penyuluhan. PPL pun dituntut lentur, fleksibel beradaptasi terhadap kemajuan teknologi, perubahan kebijakan pertanian terbaru, termasuk mencermati dinamika kebutuhan pasar. Nah, itu-lah “sebagian” dari tugas PPL di lapangan.
Menjawab Tantangan Zaman
Bila dikondisi normal peran PPL sudah sangat dibutuhkan, terlebih di situasi sekarang, ketika ketegangan di Timur Tengah makin memanas dan berpotensi mengganggu tatanan perekonomian global, termasuk ekonomi Lampung.
Kalau menengok isi rapat koordinasi yang dipimpin Sekretaris Daerah, Marindo Kurniawan, pada Rabu (25 Maret 2026) kemarin, kita menjadi tahu bahwa Pemprov Lampung sedang bersiaga menyiapkan langkah antisipatif menyusun skema penyelamatan ekonomi menghadapi situasi global terkini.
Salah satu poin yang cukup mendapat perhatian adalah mengamankan target-target sektor pertanian.
Upaya menjaga sektor pertanian agar tetap stabil tentu dimaksudkan untuk memastikan kesejahteraan masyarakat tidak terganggu. Terlebih mengingat 70 persen masyarakat Lampung berada di pedesaan.
Dalam situasi seperti ini, mestinya komunikasi dan koordinasi dengan kelembagaan PPL makin intens dilakukan. Mengingat tantangan yang dihadapi pembangunan pertanian di Lampung bertambah berat.
Belum lagi ancaman kemarau panjang dan kering akibat fenomena El Nino, lebih spesifik lagi dijuluki “Godzilla El Nino” yang bakal membayang-bayangi sepanjang sisa 2026 ini.
Maka, semakin logis bila Gubernur Mirza berinisiatif “menyapa” langsung para PPL. Pertemuan yang diharapkan tentu tidak dapat berlangsung berlama-lama, mengingat padatnya agenda seorang gubernur.
Namun, sangat mungkin, pertemuan yang sejenak itu dapat meninggalkan bekas kesan yang mendalam bagi para PPL.
Selain merasa diapresiasi oleh kepala daerah, boleh jadi pertemuan tersebut menjadi “pemompa adrenalin” menambah motivasi bagi PPL. Karena meski berada nun jauh di sana, mereka merasa tetap dibersamai oleh Gubernur Lampung.(*)

Sarjana Pertanian yang menggeluti jurnalistik sejak 1999, pemilik suratkabar & portal berita, penulis fiksi & nonfiksi, pegiat literasi digital, Ketua AMSI (Asosiasi Media Siber Indonesia) wilayah Lampung.







