Inti Berita:
• Masalah: Petani dan pelaku UMKM di Lampung masih bergantung pada penjemuran tradisional yang tidak menentu karena cuaca, sehingga proses pengeringan lama, tidak merata, dan kualitas produk menurun.
• Solusi: Pengembangan alat pengering hybrid generasi lanjutan oleh tim peneliti Fakultas Pertanian Universitas Lampung yang menggunakan sistem sirkulasi udara paksa dan energi matahari.
• Data: Suhu pengeringan stabil pada kisaran 40 hingga 45 derajat Celcius, sehingga waktu pengeringan lebih singkat dan hasil lebih seragam.
(Kitani.id): Proses pengeringan merupakan bagian sangat penting dalam pengolahan hasil pertanian di wilayah kita. Namun, kenyataannya banyak petani dan pelaku UMKM masih mengandalkan penjemuran tradisional di lahan terbuka.
Penjemuran seperti ini sangat bergantung pada cuaca, sehingga kualitas produk berisiko menurun jika tidak kering sempurna. Oleh karena itu, tim peneliti dari Fakultas Pertanian Universitas Lampung mengembangkan prototipe alat pengering hybrid generasi lanjutan.
Alat ini memanfaatkan energi matahari sebagai sumber utama untuk menghasilkan udara panas. Selanjutnya, udara panas tersebut dialirkan secara merata ke dalam ruang pengering menggunakan sistem sirkulasi udara paksa.
Menjaga Kualitas Produk Secara Otomatis
Kecanggihan alat ini, seperti dilansir FP Unila Official, terletak pada penggunaan sensor suhu dan kelembaban yang bekerja secara otomatis.
Dengan teknologi tersebut, proses pengeringan tetap stabil tanpa perlu pemantauan manual yang terus-menerus. Hal ini tentu sangat memudahkan para pelaku usaha tani dalam menjaga standarisasi produk mereka.
Berdasarkan hasil pengujian, suhu di dalam ruang pengering mampu terjaga stabil pada angka 40 sampai 45 derajat Celcius. Waktu pengeringan menjadi lebih singkat dan hasil lebih seragam. Alat ini diharapkan menjadi solusi nyata untuk meningkatkan nilai jual produk UMKM dan mendukung ketahanan pangan di Indonesia.(*)








