Inti Berita:
• Masalah: Ketergantungan nasional pada tepung terigu impor mencapai 7 juta ton per tahun, sementara harga singkong petani sering fluktuatif.
• Solusi: Hilirisasi singkong menjadi Modified Cassava Flour (Mocaf) sebagai pangan fungsional yang sehat dan bebas gluten.
• Data: Lampung memiliki ratusan ribu hektare lahan potensial; satu UMKM di Lampung Tengah bahkan sudah mampu memproduksi 9 ton mocaf per hari.
(Kitani.id): Potensi singkong di Bumi Ruwa Jurai seakan tidak ada habisnya untuk dikembangkan. Rektor Institut Teknologi Sumatera (Itera), Prof. I Nyoman Pugeg Aryantha, menegaskan bahwa singkong memiliki nilai ekonomi yang sangat strategis.
Menurutnya, komoditas ini bisa mendongkrak ekonomi daerah jika dikelola dengan sentuhan inovasi teknologi yang tepat.
“Singkong ini memiliki nilai ekonomi sangat strategis untuk meningkatkan perekonomian Lampung apabila ditangani dengan tepat,” ujar Prof. Nyoman di Lampung, Rabu (4 Maret 2026).
Selain itu, ia menambahkan bahwa masih tersedia ratusan ribu hektare lahan di Lampung yang bisa dioptimalkan. Luasan lahan tersebut dapat digunakan untuk budidaya singkong, termasuk melalui sistem tumpang sari dengan tanaman kelapa.
Manfaat Mocaf untuk Kesehatan dan Diet
Saat ini, Itera sedang gencar mengembangkan teknologi untuk memodifikasi singkong menjadi Mocaf. Tepung ini diklaim memiliki segudang keunggulan dibandingkan tepung terigu biasa.
Pasalnya, Mocaf bersifat bebas gluten dan memiliki indeks glikemik yang lebih rendah, sehingga jauh lebih sehat untuk dikonsumsi rutin.
“Mocaf bebas gluten, memiliki indeks glikemik lebih rendah, serta berfungsi sebagai prebiotik. Ini bukan sekadar karbohidrat untuk kenyang, tetapi pangan fungsional yang mendukung kesehatan,” jelas Prof. Nyoman.
Karenanya, tepung ini sangat cocok bagi penderita diabetes maupun anak dengan kebutuhan diet khusus seperti autisme.
Peluang Pasar dan Kesejahteraan Petani
Meskipun pasar tepung nasional masih didominasi terigu, peluang Mocaf untuk tumbuh tetap terbuka lebar. Prof. Nyoman memaparkan bahwa kebutuhan terigu nasional mencapai 7 juta ton per tahun.
Jika produk lokal mampu menggantikan 10 persen saja dari kebutuhan tersebut, dampaknya akan sangat luar biasa bagi ekonomi rakyat.
Kemudian, langkah hilirisasi ini diharapkan menjadi solusi agar singkong petani terserap dengan harga yang layak. Apalagi saat ini sudah ada kebijakan harga dasar singkong dari Gubernur Lampung.
Dukungan nyata juga terlihat dari pendampingan Itera terhadap alumni yang merintis usaha Mocaf di Lampung Timur dan Pesawaran.
“Bahkan, terdapat UMKM di Lampung Tengah yang mampu memproduksi hingga 9 ton per hari,” ungkap Prof. Nyoman dengan nada optimis. Melalui pengolahan yang kreatif, Mocaf kini bisa diubah menjadi berbagai produk lezat mulai dari kue, sereal, hingga mi.(*)








