Inti Berita:
• Masalah: Anak muda Lampung sering mengeluh karena keterbatasan lahan, minim modal, dan kurangnya pengalaman bertani.
• Solusi: Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, menyiapkan program penunjang pertanian modern untuk petani milenial.
• Data: Tokoh dunia seperti Mark Zuckerberg dan Bill Gates kini beralih ke bisnis agribisnis sebagai sektor yang menjanjikan.
(Kitani.id): Anak muda Lampung seringkali memiliki banyak dalih saat diminta bertani. Mereka biasanya mengeluhkan keterbatasan lahan hingga minimnya pengalaman. Padahal, saat ini sudah tersedia model pertanian modern yang lebih praktis. Selanjutnya, Gubernur Mirza pun telah menyiapkan berbagai program penunjang untuk membantu.
Sebelumnya, kita telah membahas betapa ketinggalan zaman jika pemuda masih gengsi bertani. Sebab saat ini, pesohor dunia justru sedang berbondong-bondong menekuni bisnis pertanian. Artinya, mereka yang brilian dalam berpikir, terbukti memilih sektor pangan.
Sebut saja nama besar seperti Mark Zuckerberg, sang bos Facebook. Lalu ada Jack Ma yang merupakan pendiri Alibaba Group. Konglomerat e-commerce ini sangat getol berinvestasi pada startup teknologi pertanian.
Kemudian ada juga Bill Gates yang merupakan pendiri Microsoft. Belakangan ia pun keranjingan dengan sektor agribisnis global. Ternyata ranah bisnis pertanian dan peternakan terlihat sangat seksi di mata mereka.
Jalan Keluar Bagi Generasi Muda Lampung
Setelah melihat perbandingan itu, kalangan muda Lampung seharusnya mulai tergugah. Namun, memang masih ada sederet kendala yang sering menghambat niat tersebut.
Tetapi, tak perlu gusar. Apalagi merasa pupus harapan. Karena peribahasa bilang, masih banyak jalan menuju Roma.
Salah satu jalan tersebut telah dipersiapkan oleh Gubernur Mirza. Pada satu kesempatan ia pernah mengutarakan ingin memastikan anak muda Lampung punya akses modal dan teknologi untuk bertani.
Mungkinkah ini sebatas wacana saja. Tak ubahnya gincu pemanis yang mudah luntur?
Nyatanya bukan meredup, semangat membangun pertanian modern yang berkelanjutan dan melibatkan generasi muda malah terus dikumandangkan oleh Gubernur Mirza. Bahkan ia menyambut antusias program strategis Petani Milenial yang diinisiasi Kementerian Pertanian (Kementan) RI.
Berdasarkan data Sensus Pertanian 2023 BPS, Provinsi Lampung memiliki 337.487 petani milenial (usia 19-39 tahun) atau sekitar 25,18% dari total petani. Terbanyak berada di Lampung Tengah (60.285 orang) dan Lampung Timur (48.622 orang).
Program Petani Milenial memiliki kelompok khusus bernama Brigade Pangan. Kelompok inilah yang menjadi garda terdepan dalam pengelolaan lahan.
Program ini secara nasional menargetkan jutaan anak muda dengan memanfaatkan teknologi (drone, mekanisasi) untuk budidaya, peternakan, dan hortikultura. Para petani muda itu memperoleh pendampingan teknis, bahkan permodalan dalam mengakses Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagai modal kerja.
Program tersebut merupakan kerja sama pemerintah daerah dengan Balai Pelatihan Pertanian (Bapeltan). Saat ini sudah terdapat 140 Brigade Pangan yang tersebar di empat kabupaten yakni Mesuji, Lampung Timur, Lampung Tengah, dan Tulang Bawang.
Secara umum, Gubernur Mirza menaruh perhatian besar terkait kesejahteraan petani, termasuk terhadap kalangan petani muda. Keberpihakan tersebut bisa dilihat melalui kebijakan hilirisasi, perbaikan infrastruktur, dan stabilisasi harga.
Ambil contoh, sebagai bentuk fokus terhadap pengembangan hilirisasi dan penerapan teknologi pertanian, Pemprov Lampung mengembangkan program Desaku Maju. Salah satu bentuk kegiatannya ialah menghadirkan bantuan mesin dryer dan pupuk organik cair untuk meningkatkan harga jual hasil tani langsung dari desa.
Kalau sudah ada bukti riil seperti itu, kiranya bukan hal berat lagi bagi generasi muda Lampung untuk menggeluti pertanian dan peternakan. Bahkan, Gubernur Mirza memastikan akan terus membersamai petani, sekaligus membuka pintu lebar ruang berdialog, sebagai teman diskusi. Tentu akan mengasyikkan melihat gubernur muda ngobrol bareng petani milenial.(*)
Sarjana Pertanian yang menggeluti jurnalistik sejak 1999, pemilik suratkabar & portal berita, penulis fiksi & nonfiksi, pegiat literasi digital, Ketua AMSI (Asosiasi Media Siber Indonesia) wilayah Lampung.







