Inti Artikel:
• Masalah: Pejabat sering kali terjebak pada simbol jabatan dan perilaku jemawa.
• Solusi: Menanamkan rasa cinta dan cita-cita sebagai dasar pelayanan kepada rakyat.
• Data: Arahan langsung Gubernur Mirza dalam Rakor Optimalisasi Aset Pemprov Lampung.
(Kitani.id): Ucapan Gubernur Mirza pada Rakor Optimalisasi Aset dan Inovasi Pelayanan Pemprov Lampung terasa menghentak. Sebab ada kekuatan kata-kata di sana. Dan mendiang penyair W.S. Rendra pernah bilang, Perjuangan adalah Pelaksanaan Kata-kata.
Masih menurut Rendra yang dijuluki “Si Burung Merak”, kata-kata bukanlah sebatas rangkaian huruf, melainkan mengandung banyak makna.
Lantas “semenohok” apa kata-kata yang disampaikan Gubernur Mirza, sampai-sampai saya merasa perlu menggandengkannya dengan pandangan Rendra?
Sudah barang tentu, saat menyampaikan ucapannya, kita tidak bisa membandingkan pembawaan Gubernur Mirza dengan kharisma Rendra. Karena Gubernur Mirza memang tidak sedang membaca puisi. Namun isi dari ucapannya, saya pikir, memiliki kedalaman nilai layaknya puisi.
Agar memperoleh gambaran, berikut saya tukilkan transkrip ucapan Gubernur Mirza yang termuat dalam video berdurasi 1 menit 49 detik yang sempat beredar luas.
Dalam setiap perubahan, yang mampu bertahan hanya yang bisa beradaptasi. Begitu juga pemerintahan kita. Tapi sebelum adaptasi itu, kita harus tahu posisi kita ini apa sih? Sebagai apa di negara ini, di daerah ini, di birokrasi ini?
Bapak ini sebagai apa? Sebagai siapa? Apa manfaat Bapak ini? Apa maksud Allah Ta’ala kasih Ibu-Bapak sekalian jabatan? Kita ini semua jadi pelayan, dikasih amanah. Itu dulu yang pertama yang harus kita pahami.
Ada APBD atau tidak ada APBD, jadikan jabatan Bapak-Ibu sekalian itu punya manfaat buat masyarakat Lampung.
Ya, kita menganalogikan kita orang tua dulu-lah ya. Seorang bapak, seorang emak, ini tahu Bu, anaknya ini suka makan apa, sakitnya apa. Kita sebagai ‘orang tua’-nya masyarakat ini tahu, masyarakat Lampung ini mau kita jadiin apa. Kita punya cita-cita sama mereka.
Nah, apakah seorang orang tua harus kaya raya dulu baru bisa mendidik anak? Apakah seorang orang tua harus lengkap yang dia miliki baru anaknya bisa bangkit? Syarat untuk itu nomor satu Bu, untuk tahu kita mau apain anak-anak kita ini: Cinta.
Kata Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam: Seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mencintai rakyatnya, dan rakyatnya pun mencintai dia. Jadi ketika kita chemistry-nya udah dapat kepada mereka, baru untuk eksekusi, untuk rencana, untuk buat program dan lain-lain itu kita butuh data.
Kata Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam: Beruntunglah, beruntunglah, beruntunglah, beruntunglah, tujuh kali dia buat beruntung. Beruntunglah bagi orang-orang yang Allah takdirkan jadi pintu pembuka kebaikan.
Pelayan Publik Berstatus Pejabat
Usai menyimak video singkat itu saya terhenyak, sekaligus menerka-nerka, apa gerangan isi benak para kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang berada di hadapan Gubernur Mirza ketika itu.
Apakah mereka juga merasa terhenyak, atau bahkan lebih dari itu, lantaran pesan dari Gubernur Mirza memang ditujukan langsung kepada mereka.
Sudah seharusnya mereka terhenyak sekaligus tercekat, sebab jabatan yang mereka sandang dan kerap dibangga-banggakan sampai merasa jemawa selama ini, sejatinya hanyalah simbol-simbol penegas bahwa mereka adalah pelayan dan publik selaku majikannya.
Sudah sepatutnya pula mereka malu hati kalau sampai kebablasan masih juga merasa berhak petantang-petenteng, sambil lebih sering memakai telunjuknya untuk kasih perintah ini-itu, padahal baju seragamnya tidak pernah basah oleh peluh untuk melayani masyarakat.
Para pejabat itu juga mestinya tersentak seraya instropeksi diri, sudahkah selama menjabat menanamkan rasa cinta, sebagai pijakan dari semua kerja-kerja yang dilakukan.
Sudahkah lebih sering ikhlas menjalani kewajiban, atau malah lebih sering menimbang-nimbang besaran uang jalan yang tercantum dalam secarik SPPD (Surat Perintah Perjalanan Dinas).
Para pejabat pun seharusnya mengevaluasi ulang. Apakah mereka sudah menyusun formulasi program berfaedah sebagai pengejawantahan cita-cita yang diharapkan mampu memberi manfaat bagi publik.
Atau sebaliknya, hanya sekadar meng-copy paste program-program tahun anggaran sebelumnya yang ujung-ujungnya mudah ditebak akan berakhir pada kenyataan kerja-kerja unfaedah.
Dan yang paling penting dari itu semua, sempatkah terlintas dalam pikiran para pejabat, mengapa Gubernur Mirza sampai merasa “harus” menyampaikan rangkaian kalimat itu di hadapan mereka?
Dugaannya, boleh jadi, karena Gubernur Mirza belum melihat poin-poin yang disebutkannya telah diterapkan oleh para pejabat di sekelilingnya. Wallahu a’lam bish-shawab.(*)








